Kebiasaan yang bisa menjadi detoks digital

3 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Kebiasaan detoks digital perlu menjadi perhatian di tengah kemajuan teknologi yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Detoks digital dapat memberikan ruang jeda untuk mendapatkan kembali kejernihan berpikir, fokus, kedalaman refleksi diri, serta memulihkan hubungan sosial yang nyata, menurut laporan Hindustan Times, Kamis (25/6).

Dalam hal ini, Hipnoterapis dan life coach bersertifikat Sangeeta Sharma, membagikan beberapa kebiasaan detoks digital seperti pentingnya membiasakan diri berada di alam setidaknya selama 30 menit setiap hari tanpa menggunakan perangkat digital.

Baca juga: Zaman serba digital, jangan lupakan interaksi sosial secara langsung

Kebiasaan ini dapat membantu memulihkan kesabaran, mengurangi kecemasan, memperkuat hubungan dengan diri sendiri, serta menenangkan sistem saraf.

Kemudian, menikmati waktu sendiri dapat membantu seseorang beralih dari kelelahan akibat paparan digital menuju ketenangan batin.

Waktu sendirian juga membantu seseorang mendengar suara hatinya sendiri tanpa terganggu oleh media sosial maupun tekanan dari lingkungan pergaulan.

Baca juga: Kiat menuju detoks digital dari penggunaan ponsel berlebih

“Pernapasan dalam, pernapasan berirama, atau berbagai jenis pranayama dapat membantu melepaskan stres dan mengendalikan impuls,” ujar Sangeeta.

Sangeeta menyampaikan kebiasaan dengan latihan bersenandung menggabungkan unsur napas, getaran, dan suara yang dapat merangsang saraf vagus serta memicu pelepasan endorfin, efeknya munculnya rasa bahagia yang lebih autentik dan ketenangan batin.

Selain itu, latihan ini juga dapat membantu melepaskan emosi negatif serta memproses perasaan yang selama ini terpendam.

Baca juga: Paparan konten digital berlebih ancam kesehatan mental anak

Kebiasaan makan malam bersama keluarga setiap minggu atau ritual rutin lainnya dengan aturan menyimpan ponsel dapat membantu membangun stabilitas emosional dan memperkuat hubungan yang nyata.

Menurut Sangeeta, pelukan hangat dari keluarga juga mampu memenuhi kebutuhan emosional yang sering kali tidak disadari.

Kegiatan kreatif bersama teman atau olahraga kelompok di luar ruangan dapat mengurangi rasa kesepian sekaligus menumbuhkan kolaborasi.

Baca juga: Siasat Kemkomdigi lindungi masyarakat dari paparan konten judi online

Sangeeta merekomendasikan keterlibatan dalam kegiatan sosial, dapat memberikan makna hidup yang lebih luas dibanding sekadar dunia layar dan merek-merek digital.

Kegiatan sosial juga membantu menumbuhkan empati, kesabaran, dan kembali menghubungkan individu dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Lebih lanjut, kebiasaan mengembangkan hobi seperti seni, aktivitas kreatif, musik, menari, menulis jurnal, dan membaca juga turut memperkuat hubungan dengan diri sendiri sekaligus membantu menyembuhkan luka emosional yang mungkin terpendam.

Baca juga: 83 persen orang tua khawatir paparan negatif internet, sebut Google

Penerjemah: Sri Dewi Larasati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |