Gaza (ANTARA) - Kantor media Gaza yang dikelola oleh Hamas pada Kamis (19/2) menyampaikan sebanyak 1.148 warga Palestina telah melintasi pos perlintasan perbatasan Rafah dari kedua arah sejak dibuka kembali sebelumnya pada bulan ini.
Dalam pernyataan pers singkat, kantor tersebut menguraikan bahwa sebanyak 1.148 pelaku perjalanan telah melintasi pos perlintasan perbatasan itu, dari total 3.400 orang yang diperkirakan akan melintas selama periode yang sama.
Menurut pernyataan itu, total 640 orang meninggalkan Jalur Gaza dan 508 lainnya kembali ke Jalur Gaza sejak Senin (2/2) hingga Rabu (18/2). Pernyataan itu menambahkan bahwa 26 warga Palestina ditolak saat berupaya untuk meninggalkan wilayah kantong tersebut, tanpa penjelasan apa pun.
Sebelumnya, diperkirakan sebanyak 50 warga Palestina, termasuk para pasien dan korban luka, akan meninggalkan Gaza setiap harinya, dengan ditemani oleh dua pendamping. Sementara, 50 lainnya akan kembali per harinya, menurut laporan media.
Pada Senin (16/2), Hamas menuding Israel telah melakukan "pelanggaran terang-terangan" terhadap mekanisme operasional pos perlintasan Rafah yang diatur dalam perjanjian gencatan senjata.
Dalam sebuah pernyataan pers, Hamas menyampaikan meski pos perlintasan itu telah dibuka kembali, otoritas Israel terus melanggar mekanisme yang disepakati dan memperlakukan para pelaku perjalanan yang kembali dengan tindakan fisik dan psikologis yang buruk serta interogasi yang kasar.
Gerakan itu menambahkan Israel telah gagal untuk memenuhi kuota pemberangkatan dan kepulangan harian, membahayakan ribuan nyawa pasien dan korban luka akibat penundaan dalam menerima perawatan medis di luar negeri.
Operasional terbatas di pos perlintasan Rafah dimulai pada Senin (2/2) lalu dan menjadi pembukaan kembali secara sebagian yang pertama setelah lebih dari satu setengah tahun ditutup. Langkah itu dilakukan sebagai bagian dari fase uji coba awal di bawah perjanjian gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Para pelaku perjalanan yang kembali dan faksi Palestina menuding militer Israel membatasi kebebasan bergerak mereka melalui pemeriksaan yang ekstensif, interogasi yang berkepanjangan, dan penyitaan barang-barang pribadi. Otoritas Israel belum memberikan komentar perihal tudingan tersebut.
Pos perlintasan perbatasan Rafah telah sebagian besar ditutup sejak pasukan Israel menguasai area itu pada Mei 2024, memutus akses Gaza dari dunia luar dan memperparah krisis kemanusiaan.
Pewarta: Xinhua
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































