Jakarta (ANTARA) - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla menyerukan agar masjid tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, persatuan, serta penggerak kebangkitan sosial dan ekonomi masyarakat Aceh.
“Setiap bencana pasti mengandung hikmah dan jalan keluar. Jalan keluar itu hanya bisa kita capai jika ada persatuan, kesamaan pandangan, dan doa bersama,” ujar Jusuf Kalla saat bersilaturahim dengan jamaah Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis.
Dalam sambutannya, JK menyampaikan rasa duka mendalam atas berbagai musibah yang melanda Aceh dan wilayah Sumatra lainnya. Ia mendoakan para korban agar mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. serta berharap masyarakat diberi kekuatan menghadapi cobaan.
Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) ini mengingatkan bahwa Masjid Raya Baiturrahman memiliki sejarah penting sebagai simbol keselamatan dan persatuan rakyat Aceh, termasuk saat tsunami 21 tahun lalu.
Baca juga: Bantuan 700 ton untuk sumatera dari Kementan dan Bapanas tiba di Aceh
Menurutnya, masjid harus terus dimakmurkan dan dimanfaatkan untuk membangun masyarakat yang religius sekaligus mandiri.
JK menegaskan prinsip utama DMI adalah memakmurkan dan dimakmurkan masjid, yakni menjadikan masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, hubungan sosial, serta penggerak kemajuan bangsa.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga lingkungan, khususnya hutan, agar bencana seperti banjir tidak terulang. Menurut JK, kerusakan alam sering kali menjadi faktor utama penyebab bencana yang menelan banyak korban.
Selain itu, JK mendorong kebangkitan semangat kerja dan kewirausahaan masyarakat Aceh. Ia menilai kemajuan ekonomi merupakan bagian penting dari ajaran Islam, terutama dalam konteks muamalah.
“Islam bukan hanya bicara halal dan haram, tetapi juga mendorong umatnya untuk kuat secara ekonomi. Dari lima rukun Islam, dua di antaranya mensyaratkan kemampuan ekonomi,” kata dia.
JK mencontohkan Rasulullah SAW. yang berprofesi sebagai pedagang selama 27 tahun sebelum diangkat menjadi Rasul. Menurutnya, hal tersebut menjadi teladan bahwa bekerja keras dan berusaha adalah bagian dari ibadah.
Ia juga menekankan pentingnya pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi agar Aceh mampu mengelola kekayaan alamnya sendiri dan tidak tertinggal dari daerah atau negara lain.
Baca juga: Kemenag serahkan bantuan Rp37,95 miliar bagi penyintas bencana di Aceh
Baca juga: Menag salurkan bantuan kemanusiaan hingga daging Dam di Aceh
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































