Istanbul (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Sabtu (21/2) menepis klaim Presiden AS Donald Trump bahwa 32.000 warga sipil tewas selama aksi-aksi protes di Iran.
Ia menegaskan bahwa Iran telah merilis data resmi dan menuntut bukti atas angka lebih tinggi yang diklaim oleh Trump.
Araghchi mengatakan Iran telah memenuhi janji mengungkapkan secara transparan daftar resmi yang mendokumentasikan 3.117 orang, termasuk sekitar 200 personel keamanan, yang menjadi korban dari apa yang ia sebut sebagai "operasi teroris baru-baru ini."
"Jika ada yang meragukan akurasi data kami, silakan bagikan bukti apa pun," katanya di platform X.
Pada Jumat, Trump menyatakan bahwa 32.000 orang tewas di Iran dalam "periode waktu yang relatif singkat."
"Anda tahu, rakyat Iran sangat berbeda dengan para pemimpin Iran, dan ini situasi yang sangat, sangat, sangat menyedihkan," katanya.
Perselisihan mengenai data korban semakin memperkeruh ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Baca juga: Pasukan AS siaga serang Iran, Trump minta pertimbangan
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump mengaku sedang "mempertimbangkan" serangan militer terbatas untuk menekan Iran agar mencapai kesepakatan nuklir, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Iran dan AS kembali melanjutkan perundingan nuklir awal bulan ini di Muscat, Oman, yang kemudian diikuti putaran pembicaraan lain di Jenewa pada Selasa di bawah mediasi Oman.
Upaya diplomasi itu berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, yang dipicu oleh pengerahan besar-besaran militer AS di Teluk Persia dan latihan perang Iran.
Dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian di Washington pada Kamis, Trump memperingatkan bahwa AS akan memilih opsi militer terhadap Iran "dalam 10 hingga 15 hari" jika perundingan gagal.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Swedia desak warganya tinggalkan Iran terkait risiko eskalasi kawasan
Baca juga: AS tarik pasukan di Qatar dan Bahrain di tengah ketegangan dengan Iran
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































