Sleman, DIY (ANTARA) - Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026 memasuki peringatan ke-43 dengan tema yang terdengar sederhana, tapi sesungguhnya menyimpan pekerjaan rumah yang tidak kecil.
Melalui tema “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar!”, Haornas diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berolahraga dan menjaga kebugaran. Pada saat yang sama, olahraga juga didorong untuk melahirkan prestasi internasional, sekaligus memperkuat ekosistem industri olahraga yang berkelanjutan.
Semua terdengar menjanjikan. Namun, ada satu pertanyaan yang perlu diajukan sebelum kita terlalu cepat bertepuk tangan: di mana masyarakat harus aktif bergerak badan untuk bugar?
Pertanyaan itu menjadi penting karena olahraga tidak hanya berlangsung di stadion. Olahraga juga terjadi di trotoar, taman kota, lapangan kampung, jalur sepeda, halaman sekolah, serta ruang-ruang publik lain yang setiap hari bersentuhan dengan kehidupan warga. Di sanalah anak-anak berlari, ibu-ibu berjalan kaki, para pekerja bersepeda, atau para lansia menggerakkan tubuh mereka pada pagi hari.
Jika kita sungguh ingin mewujudkan masyarakat yang aktif dan bugar, maka persoalannya bukan semata-mata mengajak orang berolahraga. Persoalannya juga terletak pada apakah lingkungan tempat mereka hidup memberi kesempatan untuk melakukannya?
Agak ganjil rasanya jika di satu sisi kita mengajak masyarakat menjadi aktif, tapi di sisi lain ruang untuk bergerak justru semakin terbatas. Kita membangun stadion dengan biaya besar, sementara taman dibiarkan rusak, trotoar terputus, jalur sepeda tidak tersambung, dan lapangan publik perlahan kehilangan fungsinya.
Saat pertandingan besar berlangsung, stadion biasanya tampak paling indah. Lampu-lampunya menyala terang. Tribun dihiasi bangku-bangku yang dicat bersih dan berbaris rapi. Rumput di tengah lapangan hijau segar, garis-garis putihnya lurus dan tertata.
Dari tempat seperti itu, olahraga tampak sebagai sesuatu yang agung, terukur, terencana, penuh sorak-sorai, dan membawa nama bangsa ke tingkat yang lebih tinggi.
Sementara itu, di luar pagar stadion, seorang lelaki berjalan kaki menyusuri trotoar yang retak. Di sebuah taman, dua orang lansia melakukan peregangan di dekat bangku yang catnya mengelupas. Beberapa anak bermain bola di lapangan yang permukaannya tidak lagi rata. Di tempat lain, seorang ibu mendorong sepeda anaknya melewati jalan yang harus berbagi ruang dengan kendaraan bermotor.
Mereka semua sedang berolahraga, meski bisa jadi tak semua orang menyebutnya demikian karena mereka tidak mengenakan seragam. Tak ada pelatih, tak ada papan skor, tak ada medali, dan, tentu saja, tak ada kamera.
Ukuran kemajuan
Dalam momentum Haornas ini, kita perlu melihat kembali olahraga dari sudut pandang yang agak jauh dari stadion.
Selama ini, kita cenderung mengukur kemajuan olahraga melalui hal-hal yang mudah dilihat: jumlah medali, prestasi atlet, kejuaraan internasional, atau kemegahan arena yang dibangun untuk sebuah pertandingan.
Sebuah bangsa tentu berhak memiliki atlet berprestasi dan arena yang layak. Namun, olahraga tidak pertama-tama lahir dari stadion. Olahraga lahir dari hal-hal keseharian yang sederhana, dari tubuh manusia yang bergerak; Dari anak yang berlari mengejar bola; Dari seseorang yang berjalan kaki atau bersepeda pulang kerja; Dari lansia yang berkeliling taman pada pagi hari.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































