Habis bencana, terbitlah harapan

5 days ago 9
Meskipun jalan utama menuju perkebunan manggis miliknya terputus akibat banjir bandang, Bustami tak putus asa. Justru itu menjadikannya sebagai sebuah tantangan untuk bangkit dari keterpurukan.

Kabupaten Tanah Datar (ANTARA) - Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat di akhir November 2025 lalu, tidak hanya merenggut ribuan korban jiwa, tetapi juga meluluhlantakkan perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sosial.

Kini, dua bulan bencana berlalu, kehidupan masyarakat Sumatera, khususnya di tiga provinsi terdampak, berangsur pulih dan mulai menatap masa depan di tengah perjuangan yang memang tidak mudah. Di Sumatera Barat, para penyintas dan warga terdampak tak ingin menjadikan bencana sebagai alasan untuk berdiam diri.

Seperti yang dilakukan Basri, seorang pengepul sekaligus pemilik usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ikan goreng bilih (Mystacoleucus Padangensis) di Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, yang mulai bangkit menjalankan usahanya pascabencana terjadi.

Basri menceritakan di awal-awal bencana terjadi, beberapa nelayan ikan bilih di sekitaran Danau Singkarak masih menangkap ikan yang kemudian dijual kepada pengepul. Seperti biasanya, Basri selalu menerima berapapun hasil tangkapan nelayan.

Namun, ada yang berbeda dari ikan-ikan yang ia peroleh dari nelayan di awal bencana terjadi. Para pelanggan mengeluhkan rasa daging ikan yang tidak seperti biasanya. Basri menyadari banjir bandang dan tanah longsor sangat mempengaruhi kualitas ikan sehingga ia memutuskan sementara waktu tidak menerima hasil tangkapan nelayan sebelum kondisi sungai dan danau membaik.

Beberapa minggu setelah tidak menerima pasokan ikan dari nelayan, justru membawa keberkahan bagi Basri dan pengepul ikan bilih lainnya, karena hasil tangkapan ikan melonjak pesat dari rata-rata 15 kilogram menjadi 200 kilogram per hari.

Meningkatkanya produksi ikan bilih dari nelayan juga membawa efek domino bagi masyarakat lokal. Biasanya, Basri hanya mempekerjakan tiga hingga empat orang untuk membantu membersihkan dan mengolah ikan bilih, tapi kini ia mempekerjakan 15 orang dalam sehari karena tingginya permintaan dan pasokan ikan yang masuk.

Basri menunjukkan ikan goreng bilih yang siap dijual ke pusat oleh-oleh di Nagari Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. ANTARA/Muhammad Zulfikar

Untuk harga beli ikan bilih dari nelayan, itu tergantung musim dan ketersediaan ikan. Saat pasokan sedang banyak, ia menebus dengan harga Rp50 hingga Rp60 ribu per kilogram. Tetapi, jika ikan sedang sedikit harganya bisa mencapai Rp100 ribu per kilogram.

Selain di Sumatera Barat, terutama di sekitaran Danau Singkarak dan Kota Payakumbuh, Basri juga menjual ikan bilih ke Depok, Jawa Barat dan Kota Dumai, Provinsi Riau. Dari usahanya itu, ia tidak hanya berhasil menyekolahkan anaknya, tetapi juga membantu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

Baca juga: Pembersihan material di jalan lintas Blangkejeren-Kutacane dikebut

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |