Empati hingga adaptasi dorong aktor manusia hadapi AI di perfilman

2 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Kemampuan empati hingga adaptasi dinilai menjadi salah satu kekuatan yang mendorong para aktor manusia menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam industri perfilman.

Aktor Morgan Oey menuturkan empati sebagai senjata utama seorang aktor menjalankan perannya dalam sebuah film. Hal tersebut disampaikan Morgan menanggapi soal perkembangan AI yang berpotensi menggantikan aktor dan aktris manusia dalam produksi film.

“Tapi kayaknya, I mean like, kalau misalnya dari dari sisi ke aktor-an mungkin kan salah satu tools atau salah satu senjata kita kan empati ya. Mungkin itu sih yang bisa enggak ya mereka buat? I don't know. Tapi kan kita nih kayak empati maksudnya ya the power of our..,” kata Morgan kepada ANTARA di Jakarta dalam media junket Festival Film Indonesia 2026, Jumat.

Senada dengan Morgan, aktor Ario Bayu mengakui empati menjadi salah satu hal penting dalam keaktoran.

“Itu betul ya, empati. Tapi ada juga namanya sistem utiliter. Terkadang kita harus maaf ya, tapi ini biasanya di alam—itu harus memusnahkan 1 untuk menyelamatkan 1.000. Jadi kadang-kadang apakah AI itu akan lebih humanis? Oh, I don't know,” kata Ario.

Baca juga: Plus minus penggunaan AI untuk produksi film menurut Brad Pitt

Ario mengatakan sebagai kreator dirinya tetap ingin menghadirkan unsur manusia dalam cerita yang dibuatnya.

“Aku pingin ada manusia yang memainkan cita-citaku ya. Dan enggak tahu sih ke depan. Tapi kalau benar kata Morgan juga ya empati ‘can they empathize?’,” tutur dia.

Ario Bayu menilai penggunaan AI sangat bergantung pada bagaimana teknologi tersebut diaplikasikan.

Menurut dia, AI menjadi salah satu bentuk evolusi teknologi. Terlebih, kini di global banyak investasi terhadap ekosistem AI untuk berbagai bidang membuat teknologi tersebut semakin sulit untuk menolak penggunaannya.

“Jadi agak sulit kalau misalnya kita seperti aku seniman nih ‘enggak boleh AI, aku enggak suka’… ini agak sulit untuk kita melawan karena the globe,” imbuh dia.

Teknologi tersebut, kata Ario, bersifat inevitable atau tidak terhindarkan karena perkembangan teknologi selalu bergerak ke depan, seperti arah evolusi yang tidak pernah berjalan mundur. Karena itu, ia menilai perlu kemampuan manusia untuk beradaptasi dan mencari keseimbangan, terlebih penggunaan Al saat ini sudah semakin luas.

Baca juga: AI Cinefest 2026 himpun 1.111 film buatan AI dari seluruh Indonesia

Aktris Nirina Zubir menilai keberadaan AI yang terus berkembang dan tidak bisa dipungkiri keberadaannya sulit untuk dibilang tidak mendukung. Seperti, melihat perubahan AI berlangsung sangat cepat, dari awal kemunculannya hingga kini mampu menghasilkan detail visual yang semakin realistis.

Di sisi lain, ia menilai penggunaan aktor manusia masih memiliki keunggulan, terutama untuk produksi film berdurasi panjang yang belum tentu lebih murah jika sepenuhnya menggunakan AI.

“Sebenarnya masih fifty-fifty banget sih, tidak bisa dipungkiri, tetapi juga sejauh ini masih berat. Karena masih kayak ‘ah kita kan punya source-nya gitu’, dan kalau buat film 90 menit kayaknya lebih mahal deh jadinya, udahlah asli aja gimana,” kata Nirina.

“Tapi kan kembali lagi produksi segala macam, kita tidak pernah tahu. Dan ya manusia yang bisa survive adalah manusia yang bisa beradaptasi,” tambah dia.

Baca juga: Kreativitas manusia jadi unsur penting dalam membuat film dengan AI

Baca juga: Seth Rogen mengkritik penulis yang menggunakan AI

Baca juga: Bantu promosi, film "Esok Tanpa Ibu" gunakan AI

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |