Ekonomi Jakarta tumbuh 5,21 persen di tahun pertama Pramono-Rano

2 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Kinerja ekonomi DKI Jakarta pada satu tahun pertama kepemimpinan Gubernur Pramono Anung Wibowo dan Wakil Gubernur Rano Karno sepanjang tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan mencapai 5,21 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerhati Jakarta, Zulfikar Marikar dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat, menyebutkan bahwa capaian ini diraih di tengah situasi ekonomi global yang belum sepenuhnya ideal dan masa transisi Jakarta memperkuat peran sebagai kota global pasca adanya UU Nomor 2 Tahun 2024.

"Secara makro, Jakarta tetap menjadi motor ekonomi Indonesia dengan kontribusi terhadap perekonomian nasional mencapai 16,61 persen," ujar Zulfikar.

Berdasarkan data yang dihimpun, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat sebesar Rp3.926,15 triliun, sementara atas dasar harga konstan (ADKH) mencapai Rp2.263,24 triliun.

Sektor jasa, perdagangan dan keuangan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan tersebut.

Baca juga: Ekraf di Jakarta potensial sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru

Ilustrasi - Sejumlah kendaraan melintas di Jalan Sudirman, Jakarta. ANTARA FOTO/Fauzan/nym.

Selain pertumbuhan, stabilitas ekonomi Jakarta juga tercermin dari pengendalian inflasi yang berada di angka 2,63 persen. Keberhasilan ini didukung oleh koordinasi pasokan pangan dan intervensi harga komoditas strategis melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Zulfikar menilai, BUMD DKI Jakarta tidak hanya berperan dalam menjaga stabilitas harga, tetapi juga memperkuat kapasitas fiskal dengan menyetorkan dividen sebesar Rp774 miliar.

Dari sisi fiskal, kata dia, realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta tahun 2025 mencapai Rp91,86 triliun. Pengelolaan keuangan daerah ini mencatatkan surplus sebesar Rp3,89 triliun yang mencerminkan tata kelola yang disiplin dan hati-hati.

Di sektor ketenagakerjaan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sepanjang 2025 telah menyelenggarakan 20 kegiatan bursa kerja (job fair) yang melibatkan 700 perusahaan dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 2.399 orang.

Baca juga: Investasi di Jakarta capai Rp270 triliun pada 2025

Pemerhati Jakarta Zulfikar Marikar. (ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi)

Hingga akhir November 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jakarta tercatat sebesar 6,05 persen, menurun dibandingkan angka tahun 2024 yang sebesar 6,21 persen. Program pelatihan kerja dan penguatan UMKM dinilai menjadi faktor pendorong dinamika pasar kerja tersebut.

Sementara itu, dalam konteks investasi, Jakarta masih menjadi tujuan utama penanaman modal dengan realisasi mencapai Rp270,9 triliun. Capaian ini dipandang sebagai bentuk kepercayaan pelaku usaha terhadap kepastian regulasi dan stabilitas ekonomi daerah.

Namun demikian, Zulfikar memberikan catatan bahwa fase konsolidasi di tahun pertama ini akan menghadapi tantangan signifikan pada tahun 2026. Hal ini menyusul proyeksi penurunan APBD Jakarta menjadi Rp81,32 triliun.

"Pemerintah daerah perlu menggali sumber-sumber pendapatan daerah alternatif lebih jauh untuk memastikan stabilitas ekonomi yang telah dicapai tetap berkelanjutan," katanya.

Pewarta: Syaiful Hakim
Editor: Sri Muryono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |