Jakarta (ANTARA) - Ekonom dari Universitas Jember (Unej) Adhitya Wardhono mengatakan rencana pemerintah menyalurkan insentif kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) dinilai akan memberikan dampak lebih besar terhadap perekonomian apabila diberikan berdasarkan kinerja industri.
Kinerja industri yang dimaksud, menurut dia, seperti tingkat produksi, penggunaan komponen lokal, penyerapan tenaga kerja, hingga transfer teknologi.
Adhitya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa, mengatakan pendekatan berbasis kinerja akan mendorong pelaku industri berlomba meningkatkan investasi dan memperdalam rantai pasok kendaraan listrik di Indonesia, sehingga manfaat kebijakan tidak hanya dirasakan melalui peningkatan penjualan kendaraan.
"Arah keberpihakan kepada merek nasional memang mudah dipahami. Namun, menurut saya insentif akan lebih efektif apabila diberikan berdasarkan kontribusi yang terukur terhadap industri nasional," katanya.
Menurut dia, ukuran tersebut dapat dilihat dari besarnya produksi yang dilakukan di dalam negeri, tingkat penggunaan komponen lokal, penciptaan lapangan kerja, hingga komitmen perusahaan dalam melakukan alih teknologi.
Ia menilai skema insentif berbasis kinerja akan memperkuat daya saing industri kendaraan listrik nasional sekaligus memberikan kepastian bagi investor untuk terus berekspansi di Indonesia.
Adhitya menjelaskan pemerintah tetap dapat memberikan afirmasi kepada merek nasional, namun kebijakan tersebut perlu dibarengi dengan indikator yang transparan sehingga mampu mendorong seluruh pelaku industri meningkatkan investasi dan kandungan lokal.
"Ini justru menjadi manfaat yang mahal menurut saya. Jika subsidi terlalu eksklusif tanpa kriteria yang transparan, risikonya adalah persaingan menjadi sempit dan dampak lanjutannya harga kurang kompetitif serta pilihan konsumen berkurang," katanya.
Selain mendorong investasi, menurut Adhitya, pendekatan tersebut juga berpotensi mempercepat terbentuknya rantai pasok kendaraan listrik dari hulu hingga hilir. Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga mampu meningkatkan kapasitas produksi komponen, baterai, hingga teknologi pendukung kendaraan listrik.
Ia menambahkan kepastian regulasi juga menjadi faktor penting agar kebijakan insentif mampu menarik investasi jangka panjang. Oleh karena itu, pemerintah perlu menetapkan mekanisme pemberian insentif secara konsisten dan berbasis indikator yang dapat diukur.
"Karena itu, menurut saya, insentif sebaiknya dibuat bertingkat dan berbasis kinerja. Perusahaan nasional tetap diberi ruang untuk tumbuh, tetapi perusahaan lain juga bisa mendapat dukungan selama benar-benar membawa manfaat yang besar ke Indonesia," ujar Adhitya.
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































