Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi V DPR RI Syafiuddin memandang rencana pembentukan satuan tugas (satgas) rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana Sumatera yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto bernilai penting untuk diimplementasikan demi mempercepat penanganan usai bencana itu.
"Pembentukan satgas ini sangat penting agar penanganan pasca-bencana bisa dilakukan secara cepat dan terintegrasi. Koordinasi dan kerja sama antar-kementerian maupun lembaga akan berjalan lebih efektif,” ujar Syafiuddin di Jakarta, Selasa.
Dengan demikian ia menyatakan mendukung penuh implementasi tersebut. Dengan adanya satgas, dia berharap proses rehabilitasi dan rekonstruksi bisa berjalan lebih cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran.
Baca juga: Prabowo rencana bentuk satgas rehabilitasi untuk bencana di Sumatera
Syaifuddin juga menyoroti kondisi di lapangan pasca-bencana di Sumatera yang hingga kini masih memprihatinkan. Sejumlah daerah terdampak banjir, kata dia, masih terisolasi akibat terputusnya akses jalan dan jembatan. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat kesulitan mendapatkan bantuan, terutama kebutuhan pokok seperti makanan dan logistik lainnya.
“Saat ini masih banyak wilayah yang terisolasi karena jalan dan jembatan putus. Akibatnya, distribusi bantuan terhambat dan masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Ini harus segera ditangani,” kata dia.
Baca juga: Prabowo tunjuk KSAD pimpin Satgas Perbaikan Jembatan di Aceh
Sejalan dengan itu Syafiuddin meminta agar satgas yang nantinya dibentuk dapat bekerja secara cepat, taktis, dan responsif terhadap kebutuhan di lapangan. Dia juga mendorong para pejabat terkait untuk tidak berlama-lama dalam mengambil keputusan, mengingat kondisi darurat yang dihadapi masyarakat.
“Kami berharap satgas dan seluruh pejabat terkait bekerja cepat dan taktis. Keselamatan serta pemulihan kehidupan masyarakat terdampak harus menjadi prioritas utama,” kata dia.
Pewarta: Tri Meilani Ameliya
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































