Dokter: Ambulans udara solusi jangkau pasien di daerah pelosok

7 hours ago 4

Jakarta (ANTARA) - Aviation Medicine Specialist lulusan Universitas Tarumanegara, Vika Cokronegoro, menilai wacana Presiden Prabowo Subianto menghadirkan layanan ambulans udara dan tim dokter terbang bisa menjadi solusi untuk perluasan akses layanan kesehatan bagi masyarakat di daerah pelosok.

Vika mengatakan ambulans udara dapat menjadi solusi untuk mempercepat evakuasi pasien dari wilayah yang sulit dijangkau melalui transportasi darat, terutama daerah pegunungan dan pulau terluar.

Ia juga mengingatkan layanan ambulans udara tidak dapat berdiri sendiri dan harus terintegrasi dengan transportasi darat dan laut, terutama untuk menjangkau daerah yang sulit diakses.

"Integrasi antarmoda darat, laut dan udara. Dimulai dari daerah yang sulit dijangkau seperti pegunungan atau pulau terluar," kata Vika dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu.

Baca juga: Prabowo siapkan ambulans udara untuk evakuasi di daerah sulit akses

Menurut Vika, konsep ambulans udara tidak hanya berbicara mengenai armada pesawat yang digunakan untuk membawa pasien, namun juga merujuk pada keberadaan tim medis yang mendampingi pasien selama penerbangan dan memungkinkan penanganan medis tetap dilakukan sepanjang perjalanan.

Tim tersebut juga dapat membawa peralatan medis darurat portabel yang digunakan sejak pasien dijemput hingga tiba di rumah sakit tujuan.

"Flying Doctor merujuk kepada tim medis yang mendampingi pasien selama perjalanan hingga pasien tiba di RS tujuan," ujarnya.

Vika menjelaskan ambulans udara dapat menggunakan berbagai jenis armada sesuai kondisi wilayah dan kebutuhan pasien, mulai dari helikopter, pesawat propeller, hingga pesawat khusus lainnya.

"Intinya satu pesawat khusus disewa untuk menerbangkan satu pasien. Pemilihan pesawat yang digunakan disesuaikan dengan bandara atau geografis rute penerbangan," kata Vika.

Ia menilai layanan ambulans udara akan semakin efektif apabila terintegrasi dengan rumah sakit yang memiliki fasilitas penyelamatan jiwa lengkap sehingga pasien dapat langsung memperoleh penanganan sesuai kebutuhannya setelah tiba.

"Base air ambulance harus berbarengan dengan RS yang fasilitas lifesaving-nya lengkap," ujarnya.

Untuk mendukung penerapan layanan tersebut secara nasional, Vika mendorong pemerintah menginventarisasi armada, fasilitas kesehatan, tenaga medis, dan peralatan yang telah dimiliki pemerintah maupun pihak swasta.

Baca juga: Mensesneg jelaskan konsep dokter terbang untuk wilayah terpencil

Langkah tersebut, menurut dia, dapat mempercepat pembentukan layanan sekaligus mengoptimalkan sumber daya yang sudah tersedia.

"Perlu inventarisasi dan koordinasi armada, fasilitas kesehatan, tenaga medis dan peralatan medis milik pemerintah dan swasta sehingga meminimalisir biaya pengadaan," tuturnya.

Meski demikian, Vika yang merupakan spesialis kedokteran penerbangan mengatakan aspek kesehatan pasien perlu menjadi pertimbangan utama sebelum seseorang dievakuasi melalui jalur udara.

Oleh karena itu, keputusan menerbangkan pasien harus mempertimbangkan kondisi medis dan risiko yang mungkin muncul selama perjalanan.

Baca juga: Menkes: 6 helikopter ambulans udara disiapkan untuk daerah terisolasi

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan pemerintah akan menyiapkan ambulans udara berupa helikopter dan pesawat kecil untuk mempercepat evakuasi masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan, terutama di daerah dengan akses yang sulit.

“Untuk itu, kita juga akan membuat ambulans udara dengan helikopter dan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan rumput, lapangan pasir, dan bisa mendarat di pinggir sungai supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa dievakuasi kalau dia sakit,” kata Prabowo dalam Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya di Jakarta, Jumat (14/8).

Prabowo mengatakan ambulans udara diperlukan sebagai salah satu terobosan untuk mengatasi kesulitan akses layanan kesehatan di sejumlah daerah.

Ia menyebut masih terdapat masyarakat yang harus menempuh perjalanan hingga tujuh sampai sembilan jam untuk memperoleh layanan kesehatan, termasuk ibu yang membutuhkan pertolongan saat persalinan.

Baca juga: Kawendra dukung layanan ambulans dan dokter terbang

Baca juga: Jawab visi ambulans terbang, BRIN matangkan ekosistem pesawat N219

Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: La Ode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |