Dokter: Abu vulkanik masuk ke pernapasan sebabkan peradangan paru

1 week ago 30

Tangerang (ANTARA) - Dokter spesialis paru RSUD Kota Tangerang Virginia Nurya Hikmawati mengatakan abu vulkanik jika terhirup hingga mencapai bagian paru-paru, partikel tersebut dapat memicu reaksi peradangan pada jaringan pernapasan.

Ia mengatakan abu vulkanik tidak dapat disamakan dengan debu biasa. Keduanya memiliki karakteristik dan kandungan yang berbeda, sehingga dampaknya terhadap tubuh juga perlu diperhatikan.

“Kalau debu biasa kandungannya bisa berupa tanah, serat kain, jamur, maupun alergen. Sementara abu vulkanik memiliki partikel mineral dan logam, termasuk kuarsa dan silika,” kata Virginia dalam keterangannya di Tangerang, Rabu.

Baca juga: Dampak paparan abu, Polres Jakbar siagakan sembilan posko kesehatan

Tubuh yang terkena paparan abu vulkanik, mengenalinya sebagai benda asing. Kondisi tersebut kemudian dapat memicu peningkatan produksi lendir pada saluran pernapasan. Dampaknya dapat lebih terasa pada masyarakat yang sebelumnya telah memiliki gangguan pernapasan.

“Orang yang sudah memiliki penyakit pernapasan sebelumnya, bisa mengalami kekambuhan, seperti asma,” ungkapnya.

Ia menjelaskan gejala akibat paparan abu vulkanik dapat berbeda tergantung bagian tubuh yang terkena. Paparan pada mata dapat menimbulkan rasa perih dan gatal. Sementara paparan pada hidung dan tenggorokan dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, batuk, hingga sakit tenggorokan.

Jika partikel masuk lebih jauh ke saluran pernapasan dan mencapai paru-paru, masyarakat dapat mengalami batuk yang lebih berat hingga sesak napas. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala yang muncul setelah terpapar abu vulkanik.

“Kalau sudah ada sesak napas, itu menjadi salah satu tanda bahwa kita perlu mendapatkan penanganan lebih lanjut di fasilitas kesehatan,” katanya.

Selain menggunakan masker, masyarakat disarankan segera membersihkan diri setelah kembali ke rumah. Cuci tangan dan wajah, serta menjaga kebersihan tubuh untuk mengurangi paparan partikel yang menempel.

Baca juga: Pulau Kelapa distribusikan masker antisipasi dampak abu vulkanik

Baca juga: Dokter: Waspadai dampak abu vulkanik meski erupsi telah usai

“Intinya, kurangi pajanan, kurangi aktivitas di luar rumah yang tidak diperlukan, terutama bagi kelompok rentan. Tetap terapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta pantau informasi resmi dari pemerintah,” kata dia.

Wali Kota Tangerang Sachrudin mengatakan penggunaan masker merupakan langkah sederhana melindungi diri dan mencegah Ispa karena Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah terpantau di kawasan Jabodetabek hingga Jawa Barat.

Wali Kota Sachrudin mengimbau warga yang beraktivitas di luar ruangan untuk menggunakan masker dan terus mengikuti informasi serta arahan resmi pemerintah. Ia meminta masyarakat tidak panik dan tetap menjalankan aktivitas dengan memperhatikan kondisi kesehatan.

“Kami juga sudah menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar tetap waspada, tidak perlu panik. Yang penting kita jaga kesehatan kita,” katanya.

Pewarta: Achmad Irfan
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |