Shenyang (ANTARA) - Sebuah seminar wadah pemikir (think tank) APEC mengenai pembangunan industri energi baru-baru ini digelar di kota pesisir Dalian, Provinsi Liaoning, China timur laut.
Dalam seminar tersebut, para perwakilan perekonomian anggota APEC membahas transportasi ramah lingkungan, ketangguhan energi, serta kawasan industri nol karbon, sekaligus menyoroti kontribusi China dalam kerja sama energi internasional.
Data terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen minyak mentah dan hampir 60 persen gas alam yang diimpor China berasal dari para anggota APEC, dan persentase tersebut terus meningkat. Sementara itu, perusahaan China secara aktif berpartisipasi dalam proyek minyak dan gas alam serta pembangunan infrastruktur LNG di Australia, Indonesia, Papua Nugini.
Menurut sebuah laporan berjudul "Kerja Sama China -ASEAN Buka Perjalanan Baru: Kerja Sama Energi Dorong Kemakmuran Bersama Asia-Pasifik" yang dirilis pada 20 Agustus lalu, kerja sama energi antara China dan APEC dalam beberapa tahun terakhir mencatat kemajuan yang menonjol, mencakup energi konvensional, energi baru, pembangkitan listrik, serta seluruh rantai industri seperti perdagangan, investasi, infrastruktur, dan berbagai aspek lainnya.
Laporan itu juga mencatat bahwa kerja sama energi antara China dan mitra-mitra APEC bersifat saling melengkapi antara pasokan dan permintaan, mewujudkan pemberdayaan energi ramah lingkungan untuk industri lainnya, serta berfokus pada stabilisasi rantai industri dan koordinasi.
"Konektivitas juga merupakan aspek penting dalam kerja sama energi antara China dan perekonomian APEC, yang mencakup jaringan pipa, pengiriman LNG, serta transmisi listrik tegangan ultratinggi," tutur Lu Ruquan, direktur eksekutif sekaligus presiden Institut Penelitian Ekonomi dan Teknologi yang bernaung di bawah China National Petroleum Corporation, sebagaimana warta Xinhua.
Di balik konektivitas tersebut terdapat kerja sama erat di bidang investasi, perdagangan, dan koordinasi kebijakan di berbagai sektor.
Sementara itu, China gencar memperdalam kerja sama inovatif di bidang energi hijau dengan para mitra APEC. PLTA Jatigede di Indonesia dan proyek pembangkitan listrik tenaga surya terapung di Malaysia, yang berhasil mengubah bekas area pertambangan menjadi fasilitas pembangkitan listrik tenaga surya, terus mendorong transisi energi di Asia Tenggara.
Dalam seminar Kawasan Industri Nol Karbon APEC yang digelar pada Jumat (21/8), Wakil Manajer Umum State Power Investment Corporation (SPIC) Chen Haibin mengatakan bahwa SPIC merupakan perusahaan produksi listrik energi bersih terbesar di dunia, dengan total kapasitas terpasang 310 juta kilowatt, yang 75 persennya berasal dari energi bersih.
Operasi perusahaan tersebut di luar negeri mencakup 25 negara dan kawasan, termasuk delapan perekonomian APEC.
Para partisipan mengatakan bahwa kawasan Asia-Pasifik menyumbang porsi yang signifikan terhadap konsumsi energi global. Kawasan tersebut tidak hanya berada di garis depan dalam pengembangan AI global, tetapi juga menjadi sumber utama pertumbuhan permintaan listrik. Signifikansi dari kerja sama energi semakin terlihat, dan China merupakan mitra yang terpercaya.
Direktur Otoritas Energi Nasional Papua Nugini Ronald Meketa berkata, "saya menyoroti kapasitas terpasang energi baru di China tercatat sangat signifikan dalam beberapa tahun terkhair dan kami menganggap pengerahan energi terbarukan dalam skala besar sebagai solusi potensial yang kami butuhkan.
" Dia menambahkan bahwa pihaknya mengharapkan adanya lebih banyak kerja sama dengan China di bidang-bidang seperti inovasi teknologi dan diversifikasi sumber daya energi."
Mengenai kerja sama Indonesia-China, akademisi asal Indonesia, Veronika Saraswati, mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan China turut berpartisipasi dalam industri nikel di Indonesia, yang meningkatkan nilai tambah sekaligus memberikan kesempatan bagi Indonesia, yang kaya sumber daya nikel, untuk meningkatkan partisipasi dalam rantai nilai nikel dan pembangunan industri energi baru global.
Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































