Cerita tentang deportasi warga Indonesia melalui Kepri

4 days ago 5
Ada nada khawatir dalam kisah yang diceritakannya

Batam (ANTARA) - Sebuah pesan masuk menginformasikan keberangkatan 163 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dideportasi dari Malaysia melalui Pelabuhan Stulang Laut, Johor Bahru, menuju Pelabuhan Ferry Internasional Batam Center, Kepulauan Riau, Indonesia, Kamis (8/1) siang.

ANTARA bergegas menuju Pelabuhan Ferry Internasional Batam Center ketika waktu menunjukkan pukul 15.10 WIB. Seperti biasa, suasana di pelabuhan itu ramai lalu lalang penumpang kapal yang hendak berangkat maupun yang tiba dari dan ke Singapura dan Malaysia. Termasuk lalu lalang para porter, petugas keamanan, dan para penjemput.

Di area pintu kedatangan tampak sejumlah petugas dari Badan Pelayanan, Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Kepulauan Riau (BP3MI Kepri) dengan rompi khasnya berwarna karamel yang bagian belakangnya bertuliskan “Satgas Perlindungan Pekerja Migran Indonesia”. Mereka tampak berbincang dengan petugas dalam keamanan pelabuhan.

Setelah berbincang sesaat, satu per satu petugas BP3MI Kepri itu masuk ke dalam melalui pintu kedatangan, ini menandakan kapal pengangkut PMI deportasi sudah tiba.

Hari itu, ternyata yang menunggu kedatangan PMI deportasi bukan hanya Satgas Perlindungan Pekerja Migran Indonesia saja, tapi sejumlah keluarga para deportan itu yang menanti dengan wajah penuh harap.

Tampak dua wanita asal Kabupaten Karimun, mereka adalah kakak beradik yang datang untuk menjemput anak dan kemenakannya yang ikut dipulangkan dalam rombongan 163 deportan tersebut.

Seorang wanita itu, sebut saja Siti (49), bertanya ke ANTARA saat menunggu di pintu kedatangan, apakah dia bisa membawa pulang langsung anak gadis setibanya di pelabuhan.

Diapun menceritakan, anaknya dideportasi dari Malaysia untuk pertama kalinya setelah ada yang melapor ke otoritas setempat karena bekerja tanpa dokumen resmi.

Ada nada khawatir dalam kisah yang diceritakannya. Ini bukan kali pertama putrinya bekerja di Malaysia, sudah tahun ketiga, tapi baru kali ini terpaksa berurusan dengan aparat berwajib di negeri tetangga.

Anaknya bekerja di restoran di Malaysia masuk lewat kenalan dari sang ibu yang juga pernah bekerja di negeri jiran. Namun sang anak yang baru berusia 22 tahun itu merasa kelelahan bekerja di restoran, sehingga memilih pindah kerja ke perusahaan.

Menurut sang ibu, bekerja di restoran lebih aman ketimbang di perusahaan, karena dengan bekerja di restoran bisa meningkatkan kewaspadaan apabila ada razia dan tau siapa saja yang datang ke resto. Meskipun pekerjaan itu melelahkan.

Selain itu, untuk bisa bertahan bekerja dengan aman di Malaysia, kata dia, harus menjaga sikap, tidak boleh melawan apa yang dikatakan oleh warga tempatan (Malaysia), patuh dan tidak menonjolkan diri.

“Selama mereka tidak menyuruh sujud di kaki mereka istilahnya begitu, jalani tugasnya tanpa melawan. Kita aman,” kata Siti mengisahkan.

Lapangan pekerjaan

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |