Medan (ANTARA) - Bupati Tapanuli Utara (Taput) Jonius Taripar menyebut sedikitnya 40 unit hunian tetap untuk penyintas bencana di wilayah itu telah diresmikan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian.
"Agenda peresmian itu dilakukan serentak untuk tiga provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh," ujar Jonius Taripar di Tapanuli Utara, Kamis.
Ia mengatakan huntara tersebut akan ditempati selama lima bulan yang dilengkapi berbagai sarana dan prasarana seperti listrik maupun kebutuhan air.
Nantinya, Jonius mengaku huntara itu bakal diproyeksikan menjadi hunian tetap bagi masyarakat.
Kendati demikian, ia mengaku gagasan tersebut terlebih dahulu berkoordinasi dengan pemerintah pusat serta menunggu proses pengalihan hak tanah.
"Tidak tertutup kemungkinan hunian ini menjadi tetap, tetapi harus perlu dibicarakan kepada pemerintah pusat," kata dia.
Dengan diresmikan huntara itu, Jonius berharap aktivitas masyarakat segera bangkit serta kembali normal seperti biasanya.
Mendagri Tito Karnavian mengatakan hunian sementara itu telah ditempati masyarakat terdampak bencana sambil menunggu pembangunan hunian tetap diselesaikan pemerintah.
Data Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera menyebut, peresmian pembangunan 1.300 unit huntara di tiga provinsi Sumatera telah dilakukan.
Meliputi Tapanuli Selatan 250 unit, Tapanuli Utara 40 unit, dan Tapanuli Tengah 112 unit di Sumatera Utara, lalu Tanah Datar di Sumatera Barat 38 unit, serta Aceh Tamiang 58 unit, Aceh Timur 308 unit, Aceh Utara 84 unit, dan Pidie Jaya 410 unit di Aceh.
"Selain huntara di Sumut, sebagian besar huntara juga di Sumatera Barat, dan Aceh yang telah dihuni oleh warga terdampak bencana," kata Tito.
Baca juga: Mendagri serahkan bantuan dana tunggu hunian di Tapanuli Selatan
Baca juga: Mendagri apresiasi daerah tangani dampak bencana cepat dan mandiri
Baca juga: Resmikan huntara Tanah Datar, BNPB targetkan semua rampung 15 Februari
Pewarta: Anggi Luthfi Panggabean dan Rinto Aritonang
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































