BRI belum lihat urgensi naikkan bunga signifikan usai BI-Rate naik

2 days ago 7
kita untuk sampai dengan sekarang belum ada kebutuhan untuk menaikkan suku bunga secara signifikan

Jakarta (ANTARA) - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI belum melihat kebutuhan mendesak untuk menaikkan suku bunga secara signifikan dalam waktu dekat di tengah lonjakan bunga acuan (BI-Rate) dalam sebulan terakhir.

“Kalau kita lihat dari sisi suku bunga long term, kita untuk sampai dengan sekarang belum ada kebutuhan untuk menaikkan suku bunga secara signifikan,” kata Group Head Liquidity and Funding Management Group BRI Teguh Sulistyono dalam acara bincang bersama media di Jakarta, Kamis.

Ia menambahkan bahwa saat ini perseroan masih diuntungkan oleh basis nasabah yang luas. Adapun di BRI sendiri, ujar Teguh, sebagian nasabah memang sensitif terhadap perubahan suku bunga, namun sebagian lainnya lebih mengikuti tingkat bunga pasar.

Perseroan mengakui mulai menerima permintaan suku bunga khusus (special rate) dari sebagian nasabah. Kenaikan BI-Rate juga dinilai berpotensi mendorong langkah penyesuaian dari perbankan.

Teguh menambahkan bahwa transformasi bisnis yang dilakukan BRI untuk menjadi bank yang lebih berorientasi digital dan transaksional turut memperkuat struktur pendanaan perseroan.

Biaya dana (cost of fund/CoF) perseroan pada kuartal I 2026 berada pada level 2,3 persen, lebih rendah dibandingkan posisi 3 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, rasio dana murah (current account saving account/CASA) juga tetap terjaga, yakni mencapai 68,1 persen pada kuartal I 2026.

Sementara itu, SEVP Transaction and Retail Funding BRI, Trilaksito Singgih memandang perubahan kondisi pasar dan likuiditas tetap akan mendorong penyesuaian di industri perbankan.

Di sisi lain, perseroan berupaya menjaga efisiensi biaya kredit agar dapat menawarkan suku bunga pinjaman yang kompetitif kepada masyarakat, khususnya di segmen mikro dan usaha kecil menengah (UKM).

“Apakah sudah mulai ada permintaan special rate? Iya. Tetapi most of all yang lebih penting yang harus dipahami oleh masyarakat adalah kita itu inginnya punya cost of credit yang efisien sehingga bisa memberi lending rate yang bagus ke masyarakat,” kata Singgih.

Ia juga mengatakan, perseroan telah menyiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi perubahan kondisi likuiditas ke depan. Sebab, ujar Singgih, likuiditas merupakan faktor utama dalam bisnis perbankan sehingga setiap perubahan kondisi pasar akan terus dipantau dan direspons sesuai kebutuhan.

Sebagai informasi, dalam sebulan terakhir, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) secara signifikan.

Dalam RDG pada 19-20 Mei 2026, BI-Rate naik sebesar 50 basis poin (bps), menjadikannya kenaikan pertama langkah penyesuaian pertama setelah dipertahankan di level 4,75 persen sejak September 2025.

Namun, nilai tukar rupiah terus melemah hingga menyentuh level Rp18.000-an per dolar AS sehingga BI-Rate kembali dinaikkan sebesar 25 bps melalui RDG Mingguan pada 9 Juni 2026 atau di luar jadwal reguler.

Terbaru pada Kamis (18/6) melalui RDG Bulanan, bank sentral memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps. Dengan demikian, kenaikan BI-Rate secara kumulatif tercatat sebesar 100bps dalam sebulan terakhir sehingga kini berada pada level 5,75 persen.

Berdasarkan catatan BI, suku bunga kredit pada Mei 2026 tercatat sebesar 8,72 persen sementara suku bunga deposito 1 bulan sebesar 4,26 persen.

Baca juga: CORE: BI prioritaskan stabilisasi rupiah lewat kenaikan suku bunga

Baca juga: BI naikkan suku bunga acuan BI-Rate jadi 5,75 persen

Baca juga: BCA Syariah perkuat sumber dana murah seiring kenaikan BI-Rate

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |