BPS sebut laju pertumbuhan penduduk RI melambat

3 hours ago 2
Penduduk Indonesia masih terus bertumbuh dengan laju 1,08 persen per tahun dalam 5 tahun terakhir

Jakarta (ANTARA) -

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, laju pertumbuhan penduduk di Indonesia melambat.

Penduduk Indonesia tercatat masih tumbuh dengan laju 1,08 persen per tahun dalam kurun 5 tahun terakhir. Ini lebih lambat jika dibandingkan dengan hasil sensus tahun 2020 yang tercatat 1,10 persen.

“Penduduk Indonesia masih terus bertumbuh dengan laju 1,08 persen per tahun dalam 5 tahun terakhir, dan setengahnya masih terkonsentrasi di Pulau Jawa,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Sebagai informasi, BPS secara khusus merilis berbagai indikator kependudukan hasil pendataan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Tahun 2025.

SUPAS sendiri dilaksanakan diantara dua periode sensus penduduk untuk memperoleh berbagai indikator demografi seperti fertilitas, mortalitas, dan mobilitas.

BPS melaporkan bahwa jumlah penduduk Indonesia berdasarkan SUPAS 2025 mencapai 284,67 juta jiwa; dan 55,65 persen diantaranya berada di Pulau Jawa.

Laju pertumbuhan penduduk tercatat sebesar 1,08 persen per tahun, melambat dari kondisi terakhir pada Long Form Sensus Penduduk 2020 (LF SP2020) sebesar 1,10 persen.

Berdasarkan usia, sekitar 68,92 persen penduduk Indonesia merupakan Gen-Z (kelahiran 1997-2012), Milenial (kelahiran 1981-1996) dan Post-Gen Z (kelahiran 2013 ke atas).

Rasio ketergantungan penduduk berdasarkan hasil SUPAS 2025 mencapai 45,05, yang artinya bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif menanggung 45 penduduk usia nonproduktif. Angka ini naik dari 44,33 pada pendataan LF SP2020.

Selanjutnya, Amalia melaporkan Angka Kelahiran Total atau Total Fertility Rate (TFR) pada SUPAS 2025 tercatat sebesar 2,13, atau turun dari 2,18 pada pendataan LF SP2020.

Penurunan TFR ini utamanya didorong oleh penurunan angka kelahiran pada perempuan kelompok umur 15-19 tahun dan 20-24 tahun yang cukup signifikan.

Sementara, Angka Kematian Bayi atau Infant Mortality Rate (IMR) menunjukkan tren menurun dari waktu ke waktu. IMR berdasarkan SUPAS 2025 tercatat sebesar 14,12 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup, atau turun dari 16,85 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup pada LF SP2020.

IMR pada SUPAS 2025 bahkan hampir setengah dari kondisi SP2010 yang sebesar 26,09 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup.

Lebih lanjut, Angka Kematian Ibu Melahirkan atau Maternal Mortality Ratio (MMR) juga menunjukkan tren menurun. MMR berdasarkan SUPAS 2025 turun menjadi 144 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup, atau turun dari 189 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup pada LF SP2020.

MMR pada SUPAS 2025 turun lebih dari setengah kondisi pada pendataan SP2010 yang sebesar 346 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup.

Adapun BPS turut mencatat bahwa angka migrasi masuk maupun keluar internasional hasil SUPAS 2025 mengalami peningkatan dibandingkan hasil LF SP2020. Dari sisi domestik, DKI Jakarta menjadi daerah dengan persentase migrasi keluar antarprovinsi terbesar, baik seumur hidup maupun risen.

Baca juga: Lebih banyak perempuan atau laki-laki di Indonesia? ini datanya

Baca juga: BPS siap gelar Sensus Penduduk 2020 Lanjutan pada 2022

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |