BPS: Kenaikan harga ayam ras di 188 daerah perlu diwaspadai

1 hour ago 5

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti meminta pemerintah daerah mewaspadai kenaikan harga daging ayam ras yang terjadi di sejumlah kabupaten/kota, meskipun harga komoditas tersebut secara nasional masih berada sedikit di bawah harga acuan penjualan (HAP) konsumen.

Amalia mengatakan harga rata-rata nasional daging ayam ras saat ini mencapai sekitar Rp39.712 per kilogram atau masih sedikit di bawah HAP konsumen yang tercatat Rp40.000 per kilogram.

Namun, laju kenaikan harganya relatif tinggi, sehingga perlu mendapat perhatian agar tidak terus meningkat hingga melampaui HAP.

"Ini mungkin untuk perlu perhatian karena kalau nanti kenaikan harga ini terus dibiarkan, tentunya suatu saat nanti akan berada di atas HAP," ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi Inflasi Daerah, yang dipantau secara daring di Jakarta, Senin.

Menurut Amalia, terdapat 188 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam ras.

Sejumlah daerah bahkan mencatat kenaikan IPH yang cukup tinggi dan harga yang telah melampaui HAP.

Ia mencontohkan Kabupaten Bangka Selatan yang mencatat kenaikan IPH daging ayam ras sebesar 34,58 persen, meskipun harga komoditas tersebut masih sekitar 3 persen di bawah HAP atau Rp38.800 per kilogram.

Sementara itu, Kota Binjai mencatat kenaikan IPH sebesar 29,78 persen dengan harga daging ayam ras yang sudah sekitar 5 persen di atas HAP yakni Rp42.000 per kilogram.

Kondisi lebih tinggi terjadi di Kabupaten Kepahiang, dengan kenaikan IPH mencapai 21,34 persen dan harga daging ayam ras sekitar 20 persen di atas HAP atau Rp48.000 per kilogram.

Amalia menjelaskan kenaikan harga daging ayam ras di sejumlah daerah dipengaruhi oleh faktor pasokan maupun peningkatan permintaan.

Di Kabupaten Bangka Selatan, misalnya, kenaikan harga daging ayam ras dipengaruhi meningkatnya permintaan sebagai alternatif pengganti ikan. Hal ini disebabkan oleh kondisi cuaca berupa angin kencang dan gelombang tinggi yang membatasi aktivitas nelayan, sehingga pasokan ikan berkurang dan masyarakat beralih membeli daging ayam.

Sementara, di Kota Binjai, kenaikan harga daging ayam ras dipicu peningkatan permintaan pasar seiring kembali beroperasinya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setelah libur sekolah berakhir.

Adapun di Kabupaten Labuhanbatu Selatan, kenaikan harga terjadi karena stok daging ayam ras di pasar terbatas di tengah meningkatnya permintaan.

Amalia mengatakan berbagai faktor tersebut perlu menjadi bahan perhatian pemerintah daerah dalam upaya mengendalikan harga daging ayam ras, terutama di daerah yang mengalami kenaikan harga cukup tinggi.

"Ini catatan untuk mengendalikan harga. Karena di sebagian kota dan kabupaten memang ada keterbatasan pasokan dan juga di beberapa tempat memang sisi permintaannya sedang meningkat," katanya.

Baca juga: BPS catat daging ayam hingga cabai alami deflasi usai Lebaran

Baca juga: Inflasi daging ayam ras di Jakarta pada Lebaran 2026 lebih terkendali

Baca juga: Harga cabai dan daging ayam picu kenaikan IPH selama Ramadhan

Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |