BPBD Situbondo: Kerugian akibat banjir mencapai Rp15 miliar

1 week ago 11

Situbondo (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, mencatat kerugian materiil akibat banjir bandang yang terjadi pada Rabu (21/1) lalu mencapai sekitar Rp15 miliar.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Situbondo Timbul Surjanto mengemukakan banjir bandang mengakibatkan kerusakan yang cukup parah mulai dari infrastruktur jalan dan jembatan penghubung antardesa, fasilitas umum dan lembaga pendidikan hingga kerusakan rumah warga.

"Jadi, kerusakan akibat banjir bandang cukup parah, dan sementara kami perkirakan mencapai Rp15 miliar, ini belum termasuk dampak banjir di sektor pertanian," katanya di Situbondo, Jawa Timur, Selasa.

Timbul menyebutkan kerusakan infrastruktur akibat banjir luapan air sungai itu merusak beberapa titik infrastruktur jalan, salah satunya di Desa Bloro, Kecamatan Besuki, jembatan yang menghubungkan Desa Patemon dan Desa Wringinanom, Kecamatan Jatibanteng terputus.

Selain itu, lanjut dia, banjir bandang juga merusak sejumlah tembok penahan tanah, bronjong, serta akses jalan desa dan infrastruktur lainnya tertimbun longsor.

"Selain itu, kami juga sedang melakukan normalisasi di beberapa titik aliran sungai, Kami terus memperbarui data dampak dari bencana banjir," kata Timbul.

Mengenai penanganan bencana banjir hingga saat ini, kata dia, posko kesehatan maupun dapur umum di lokasi terdampak banjir terus berlangsung dan menyesuaikan kebutuhan di lapangan.

"Dapur umum sampai saat ini masih tetap melayani masyarakat terdampak bencana, karena setiap tiga hari kami melakukan evaluasi untuk diperpanjang sesuai kebutuhan masyarakat," ujar Timbul Surjanto.

Baca juga: Pemkab Situbondo dirikan dapur umum untuk korban banjir bandang

Data BPBD Situbondo mencatat rumah warga terdampak banjir bandang yang terjadi pada Rabu (21/1) malam mencapai 7.435 unit dan tersebar di enam kecamatan.

Terdampak banjir paling parah akibat luapan air Sungai Lubawang itu, yakni Kecamatan Banyuglugur sebanyak 1.271 rumah, tersebar di Desa Kalianget 1.065 rumah, Desa Banyuglugur 65 rumah, Desa Lubawang 140 rumah, dan Desa Tepos satu rumah.

Selanjutnya, dampak terparah banjir luapan air sungai itu, yakni Kecamatan Besuki sebanyak 5.414 rumah, tersebar di Desa Pesisir 2.822 rumah, Desa Kalimas 238 rumah, Desa Demung 44 rumah, Desa Besuki 2.306 rumah, dan Desa Bloro empat rumah.

Hujan dengan intensitas tinggi pada Rabu (21/1) juga menyebabkan sejumlah aliran sungai meluap dan menggenangi 113 rumah warga di Desa Mlandingan Wetan, Kecamatan Bungatan.

Di Kecamatan Mlandingan banjir menggenangi sebanyak 402 rumah tersebar di Desa Selomukti 305 rumah dan Desa Mlandingan Kulon 97 rumah, serta di Desa/Kecamatan Kendit sebanyak 227 rumah, dan Desa Curah Suri, Kecamatan Jatibanteng delapan rumah.

Sementara data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Situbondo menyebutkan, banjir pekan lalu juga membanjiri 21 lembaga pendidikan SD dan SMP.

Dari 21 SD dan SMP terdampak banjir, ada dua sekolah terdampak paling parah yakni SDN 1 Kalianget dan SMPN 1 Banyuglugur. Dua sekolah ini berdampingan dan terdampak paling parah, tembok pagar belakang sekolah ambruk dan material banjir seperti lumpur dan sampah masuk ke sekolah.

Baca juga: Pemkab Situbondo: Rumah terdampak banjir bandang capai 6.328 unit

Adapun data lembaga pendidikan SD dan SMP terdampak banjir yaitu SDN 9 Kilensari, SDN 4 Sumberkolak, SDN 2 Curahkalak, SDN 1 Klatakan, SDN 2 Klatakan, Kantor Korwil kendit, SDN 5 Kendit, SDN 1 Bugeman, SDN 1 Banyuglugur, SDN 1 Kalianget, SDN 3, Lubawang, SD Terpadu An Nadwah Lubawang, SDN 2 Kalimas, SDN 2 Pesisir, SDN 6 Pesisir, SDN 7 Pesisir, SDN 2 Blimbing, SDN 5 Olean, SMPN 1 Kapongan, dan SMPN 1 Banyuglugur.

Pewarta: Novi Husdinariyanto
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |