Banjarbaru (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan (Kalsel) menerapkan standar operasional prosedur (SOP) baru mempercepat alih penanganan satgas darat ke satgas udara ketika titik api sulit dijangkau guna mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas.
Kepala Pelaksana BPBD Kalsel Ronny Eka Saputra di Banjarbaru, Sabtu, mengatakan SOP tersebut menetapkan satgas darat tidak lagi memaksakan pemadaman ketika titik api dinilai sulit dijangkau berdasarkan asesmen lapangan satgas darat dan upaya awal belum efektif.
“Setelah satgas darat menggunakan maksimal tiga sambungan selang namun titik api tetap tidak dapat dijangkau secara efektif, penanganan langsung dialihkan kepada satgas udara menggunakan helikopter untuk melakukan water bombing agar kebakaran tidak meluas,” ujarnya.
Menurut dia, mekanisme tersebut disusun menyesuaikan karakteristik wilayah Kalimantan Selatan dan berbeda dengan pola penanganan di daerah lain, sehingga mengutamakan kecepatan pengambilan keputusan dibanding memaksakan operasi darat hingga batas kemampuan personel.
Baca juga: BPBD Kalsel optimalkan helikopter "water bombing" tangani karhutla
“Kendala utama penanganan karhutla di Kalimantan Selatan adalah akses menuju lokasi kebakaran yang umumnya jauh dari sumber air dan sulit dilalui personel maupun peralatan. Kondisi itu membuat pemadaman darat tidak selalu menjadi pilihan paling efektif,” katanya.
Selain akses yang terbatas, ia menuturkan kawasan prioritas di bagian selatan Banjarbaru juga belum memiliki kanalisasi untuk mengatur debit air yang mengakibatkan vegetasi lebih cepat mengering, terutama pada pagi dan sore hari, sehingga wilayah tersebut menjadi salah satu titik yang rawan terjadi karhutla.
Untuk mendukung SOP baru tersebut, BPBD Kalsel mengerahkan bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berupa dua unit helikopter pengebom air, satu unit helikopter patroli, dan satu unit pesawat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang juga dapat dimanfaatkan untuk patroli.
Dia mengatakan dukungan armada udara tersebut telah membantu menekan luas lahan yang terbakar. Namun, operasi helikopter pengebom air hanya dapat dilakukan hingga sekitar pukul 18.00 Wita sehingga pengendalian pada malam hari difokuskan untuk mencegah api merambat ke kawasan permukiman.
Baca juga: BNPB: Helikopter pengebom air lebih efektif sebelum karhutla meluas
“Kami pernah menguji pemadaman pada malam hari dengan menyambung delapan ruas selang. Cara itu tidak lagi diterapkan karena tekanan air menurun, daya semprot berkurang, dan risiko terhadap keselamatan personel di lapangan lebih besar,” ujar Ronny.
Pewarta: Tumpal Andani Aritonang
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































