Jakarta (ANTARA) - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) meyakini pengusulan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Samota (Saleh-Moyo-Tambora) di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) dapat menjadi magnet investasi baru di Indonesia Timur, khususnya untuk sektor pariwisata dan ekonomi biru.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu menyampaikan pengembangan KEK Samota perlu didukung kesiapan ekosistem investasi, mulai dari kepastian lahan, infrastruktur, hingga keberadaan investor yang siap merealisasikan investasinya.
Menurut Todotua dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu, pengusulan KEK Samota tidak hanya untuk menghadirkan destinasi wisata baru, tetapi juga membangun kawasan investasi yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi, menarik investasi jangka panjang, serta membuka lapangan kerja berkualitas bagi masyarakat.
"Usulan pengembangan KEK Samota harus kita tempatkan dalam konteks yang lebih luas. Kawasan ini harus mampu menjadi instrumen untuk mengoptimalkan keunggulan kawasan sekaligus mendukung arah kebijakan investasi nasional yang memberikan perhatian pada sektor-sektor produktif, termasuk pariwisata, ekonomi biru, ekonomi hijau, industri kreatif, agro-maritim, serta penguatan konektivitas dan logistik," ujar dia.
Todotua menjelaskan investasi menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menargetkan realisasi investasi sekitar Rp13.032,8 triliun selama periode 2025–2029 guna mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen pada 2029.
Baca juga: RI tawarkan peluang investasi data center kepada pelaku usaha China
Baca juga: BKPM: Investasi hilirisasi bauksit kuartal II 2026 naik 193 persen
Hingga semester I tahun 2026, realisasi investasi nasional telah mencapai Rp1.040,6 triliun atau 49,5 persen dari target tahun 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Realisasi tersebut juga menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja. Distribusi investasi pun semakin merata, dengan 50,2 persen realisasi berada di luar Pulau Jawa.
Ia menambahkan Provinsi NTB memiliki posisi yang semakin strategis dalam peta investasi nasional. Selama periode 2021 hingga triwulan II tahun 2026, realisasi investasi di NTB telah mencapai sekitar Rp216,7 triliun.
Sementara itu, pada semester I 2025, realisasi investasi di NTB mencapai Rp32,9 triliun, menunjukkan daya tarik investasi yang terus meningkat. Khusus sektor pariwisata, realisasi investasi kumulatif 2023 hingga semester I 2026 mencapai Rp190 triliun, menjadikan NTB termasuk lima besar provinsi tujuan investasi di sektor tersebut.
Pengembangan kawasan Samota juga didukung dengan telah ditetapkannya Peraturan Daerah Provinsi NTB tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi NTB Tahun 2024–2044 yang mengatur pengembangan kawasan Samota.
Todotua menilai Kabupaten Sumbawa memiliki modal kuat untuk berkembang sebagai kawasan investasi baru. Wilayah tersebut berada di sekitar Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II yang menjadikannya strategis sebagai simpul logistik dan distribusi regional yang menghubungkan kawasan Indonesia bagian barat dan timur.
Selain itu, Samota memiliki potensi pengembangan ekonomi berbasis pariwisata premium, ekonomi biru, hingga hilirisasi sektor perikanan dan agro-maritim.
"Pemberian status KEK bukanlah tujuan akhir. Yang paling penting adalah memastikan bahwa kawasan tersebut layak secara ekonomi dan finansial, memiliki kepastian lahan, mempunyai rencana bisnis yang jelas, didukung infrastruktur yang memadai, serta memiliki investor yang siap merealisasikan investasinya," kata Todotua.
Baca juga: Kepala BKPM: Realisasi investasi tahun 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun
Baca juga: BKPM sampaikan perusahaan biofarmasi Jepang investasi Rp539 miliar
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































