Belajar revitalisasi perdesaan dari desa-desa di Yunnan

4 hours ago 5

Kunming (ANTARA) - Kunjungan ke desa-desa di Yunnan, China, membawa para pejabat desa dari Indonesia melihat lebih dekat dengan cara masyarakat setempat mengubah potensi alam dan budaya menjadi sumber ekonomi, tanpa meninggalkan karakter tradisional mereka.

Di Desa Sanman misalnya, mereka melihat bagaimana tiga desa tetangga beralih dari pola pengembangan secara terpisah menjadi kerja sama.

Bagi Titin Bainah, seorang kepala desa dari Sumatra Utara, kunjungan pertamanya ke Desa Sanman di Xishuangbanna, Provinsi Yunnan, China barat daya, memberinya kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah masyarakat perdesaan dapat mengubah sumber daya lokal menjadi peluang baru.

"Desa ini sangat bersih, dan saya terkesan dengan perpaduan antara pariwisata dan budaya, serta ekonomi kolektif," kata Titin, seraya menambahkan bahwa dirinya berharap dapat membawa sebagian pengalaman tersebut kembali ke Indonesia.

Pada 12 hingga 13 September, sekelompok pejabat desa dari Indonesia mengunjungi komunitas perdesaan di daerah perbatasan Yunnan. Mereka tidak hanya mengagumi pemandangan, tetapi juga menanyakan bagaimana warga desa terlibat, bagaimana industri lokal berkembang, bagaimana budaya tradisional diubah menjadi sumber daya ekonomi, dan bagaimana warga desa turut menikmati manfaatnya.

Sanman merupakan bagian dari Komite Desa Mangajian. Dahulu, ketiga desa tersebut memiliki industri yang terpisah dan terutama mengandalkan penyadapan karet serta pekerjaan migran. Kerajinan tradisional pun kesulitan mendapatkan penerus.

Sejak 2023, sebuah tim yang dipimpin oleh Profesor Li Xiaoyun dari Universitas Pertanian China telah membantu dalam perencanaan dan pengelolaan. Sembari tetap mempertahankan karakteristik desa etnis Dai, masyarakat setempat telah mengembangkan kafe, pengalaman wisata hutan hujan, serta toko-toko produk budaya dan kreatif, sehingga menyatukan berbagai sumber daya yang sebelumnya tersebar.

ANTARA/Xinhua

Hal yang paling menarik perhatian para pejabat Indonesia adalah bagaimana penduduk desa memperoleh manfaat dari perubahan-perubahan tersebut. Pada 13 September sore hari waktu setempat, para pejabat Indonesia mengunjungi Desa Manzhao di wilayah Menghai, Provinsi Yunnan. Desa tersebut saat ini merupakan satu-satunya desa di Xishuangbanna yang memproduksi kertas tradisional etnis Dai.

Pendapatan dari pengeluaran pengunjung didistribusikan melalui koperasi, perusahaan pengelola, badan usaha kolektif desa, dan kelompok-kelompok desa, sehingga memungkinkan rumah tangga untuk turut menikmati manfaatnya. Pada 2025, Sanman mencatatkan omzet usaha sebesar 2,58 juta yuan (1 yuan = Rp2.629). Perusahaan kolektif desa tersebut meraup pendapatan sebesar 570.000 yuan, termasuk 70.000 yuan yang dibagikan sebagai dividen kepada seluruh 140 rumah tangga.

"Terkait pembangunan perdesaan, pada akhirnya yang terpenting adalah warga desa mendapatkan manfaatnya," ujar Titin.

Dia menyatakan bahwa pembangunan perdesaan membutuhkan lebih dari sekadar lingkungan yang indah. Diperlukan pula industri yang mendorong warga desa untuk tetap terlibat aktif. Dia sangat tertarik pada bagaimana desa-desa di Yunnan mengubah kafe, lokasi menikmati matahari terbenam, dan berbagai daya tarik sehari-hari lainnya menjadi sumber pendapatan baru. Hal ini menginspirasinya untuk memikirkan bagaimana desa-desa di Indonesia dapat memanfaatkan sumber daya mereka sendiri dengan lebih baik.

ANTARA/Xinhua

Pada 13 September sore hari waktu setempat, para pejabat Indonesia mengunjungi Desa Manzhao di wilayah Menghai, Provinsi Yunnan. Desa tersebut saat ini merupakan satu-satunya desa di Xishuangbanna yang memproduksi kertas tradisional etnis Dai.

Mulai dari transformasi Sanman hingga revitalisasi kerajinan tradisional di Manzhao, mereka melihat satu pelajaran penting, yaitu revitalisasi perdesaan bukan sekadar upaya memperindah tampilan desa. Revitalisasi perdesaan adalah tentang menyatukan sumber daya ekologis, budaya, dan industri, sembari memastikan bahwa warga desa berperan sebagai partisipan sekaligus penerima manfaat dari pembangunan tersebut.

Di sebuah toko produk budaya dan kreatif, kertas etnis Dai telah diolah menjadi berbagai barang seperti kemasan, tas tangan, kotak kado, kipas, lampu, dan lukisan dekoratif. Seorang warga desa bernama Yu Kangkang telah membantu mengembangkan lebih dari 60 produk, membawa kerajinan yang memiliki sejarah lebih dari 800 tahun ini ke pasar modern.

Para pejabat yang berkunjung mengatakan bahwa mereka berharap dapat membawa kembali sebagian pengalaman tersebut ke Indonesia.

ANTARA/Xinhua

Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |