Moskow (ANTARA) - Amerika Serikat dan Qatar mengkaji pemberian akses bagi Iran terhadap aset beku senilai 6 miliar dolar (sekitar Rp106,9 triliun) guna keperluan kemanusiaan, demikian dilaporkan The Wall Street Journal pada Sabtu.
Menurut sumber yang mengetahui hal itu, inisiatif tersebut sedang dipertimbangkan sebagai insentif bagi Iran untuk menandatangani perjanjian komprehensif terkait penyelesaian akhir konflik dengan AS, menurut laporan surat kabar tersebut.
Menurut rencana, aset yang saat ini dibekukan di Qatar akan dicairkan untuk transaksi pembelian pangan, obat-obatan, dan komoditas kemanusiaan lain.
Mekanisme tersebut dapat memberi kerangka untuk konsesi selanjutnya yang berdampak pada aset-aset lain milik Iran yang masih dibekukan. Namun demikian, Iran dilaporkan masih belum menyetujui usulan tersebut.
Baca juga: Iran tuntut AS cairkan 50 persen aset usai penandatanganan MoU
Pada Minggu (14/6), Iran dan Amerika Serikat menyatakan telah merampungkan nota kesepahaman perdamaian. Kemudian, pada Kamis dini hari (18/7), pemimpin kedua negara itu menandatangani kesepakatan tersebut secara elektronik dan terpisah untuk mengakhiri perang.
Memorandum perdamaian yang diteken tersebut memberi waktu selama 60 hari bagi AS dan Iran untuk merundingkan kesepakatan akhir mereka terkait isu nuklir Iran dan sanksi AS terhadap Iran.
Kesepakatan itu juga menetapkan waktu bagi AS untuk mengakhiri blokade lautnya terhadap Iran dan bagi Iran untuk memulihkan pelayaran di Selat Hormuz.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Qatar: Memorandum Iran-AS tandai langkah pertama konsensus regional
Baca juga: Iran tolak negosiasi langsung dengan AS, pilih jalur mediasi Qatar
Penerjemah: Nabil Ihsan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































