Jakarta (ANTARA) - Xiaomi mengatakan pihaknya mempertimbangkan berbagai faktor dalam menentukan penyesuaian harga produk gawainya yang mencakup dinamika pasar lokal, ekspektasi konsumen, hingga peta persaingan.
"Setiap penyesuaian harga dilakukan dengan pertimbangan matang terhadap dinamika pasar lokal, ekspektasi konsumen, dan peta persaingan, demi memastikan produk kami tetap menawarkan keseimbangan yang optimal antara performa, kualitas, dan keterjangkauan," kata Marketing Director Xiaomi Indonesia Andi Rengreng saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Selasa.
Sebagai informasi, harga berbagai produk gawai disebut melonjak pada tahun 2026 menyusul kenaikan harga komponen global seperti RAM yang juga berdampak ke banyak merek teknologi.
Andi menuturkan, seiring dengan berkembangnya dinamika pasar global, pihaknya terus melakukan peninjauan harga secara berkala untuk memastikan harga tersebut mencerminkan kondisi riil secara akurat, sekaligus menunjang investasi berkelanjutan pada kualitas produk dan inovasi.
Baca juga: Bagaimana manajemen penyimpanan buruk pengaruhi performa sistem gawai
Dalam menetapkan harga produk, sambungnya, Xiaomi mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk fluktuasi nilai tukar mata uang, ketentuan pajak dan regulasi, biaya logistik dan distribusi, serta kondisi operasional di setiap pasar.
"Sejalan dengan prinsip utama Xiaomi dalam menghadirkan produk luar biasa dengan harga yang jujur, kami tetap berkomitmen untuk memberikan nilai terbaik bagi pengguna di seluruh dunia," ujar Andi.
Diketahui, proyek infrastruktur kecerdasan buatan (AI) membutuhkan memori sangat banyak yang membuat pasokan untuk perangkat konsumen (PC, laptop, HP) menjadi langka dan harga melonjak drastis sejak pertengahan 2025 dan diprediksi berlanjut di 2026.
Laporan pasar terbaru dari perusahaan riset pasar TrendForce menunjukkan kondisi yang cukup berat bagi pasar ponsel pintar dan laptop global. Harga perangkat tidak hanya berpotensi naik, tetapi spesifikasi yang ditawarkan juga dapat diturunkan, terutama pada ponsel kelas menengah dan kelas bawah.
Saat ini, biaya memori memakan porsi yang semakin besar dari total biaya produksi (Bill of Materials/BOM). Karena itu, banyak merek mulai mempertimbangkan untuk menurunkan spesifikasi agar harga jual tetap terjangkau.
TrendForce memperkirakan bahwa sepanjang 2026, biaya DRAM (RAM) akan terus mengambil porsi yang lebih besar dari biaya produksi. Bahkan iPhone, yang dikenal memiliki margin keuntungan tinggi, juga akan terdampak tren ini.
Namun, produsen Android berada dalam posisi yang lebih sulit. Banyak merek Android menjadikan kapasitas RAM besar, seperti 12GB, sebagai nilai jual utama di ponsel kelas menengah.
Baca juga: Pakar: Batasi gawai saat pendampingan psikologis anak pascabencana
Baca juga: Harga PC diprediksi naik tahun depan akibat kelangkaan komponen memori
Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Indriani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































