Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyebutkan bahwa satelit Low Earth Orbit (LEO) menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi blank spot atau titik yang tidak terjangkau konektivitas di area terdepan, tertinggal, terluar (3T).
“LEO itu salah satu opsi. Jadi ada banyak pilihan, mulai dari fiber optik hingga BTS, tergantung kondisi lapangan di daerah 3T tersebut,” ujar Wamen Nezar dalam keterangan yang diterima dan dikonfirmasi dari Jakarta, Jumat.
Menurutnya satelit LEO adalah opsi strategis untuk memperluas konektivitas di wilayah terpencil dan daerah bencana yang sulit dijangkau infrastruktur telekomunikasi darat.
Dalam mencapai pemerataan konektivitas, Nezar mengatakan pemerintah Indonesia terus mengevaluasi teknologi konektivitas yang paling efektif untuk menutup kesenjangan akses digital.
Baca juga: Menkomdigi tegaskan konektivitas harus dorong pertumbuhan dan keamanan
Meski demikian, ia menegaskan teknologi LEO belum dirancang untuk menggantikan seluruh moda telekomunikasi yang sudah eksis sebelumnya.
“LEO ini juga punya beberapa keterbatasan. Kalau ada gangguan atau terhalang awan, latensinya akan terpengaruh. Tapi dia efektif sekali di laut atau pegunungan,” jelasnya.
Dalam praktiknya, pemerintah Indonesia telah memanfaatkan layanan LEO secara terbatas untuk mendukung komunikasi di wilayah terdampak bencana dan daerah yang benar-benar terisolasi dari jaringan telekomunikasi konvensional.
“Kita sudah coba di wilayah bencana Aceh, Sumut, dan Sumbar waktu itu. Perangkat LEO dibagikan ke daerah-daerah terpencil yang tidak bisa dijangkau sama sekali dan komunikasinya bagus sekali. Kita bisa terhubung, bahkan bisa digunakan untuk video call,” katanya.
Meski begitu, Indonesia berpandangan bahwa untuk mencapai pemerataan konektivitas maka pemanfaatan beragam jenis teknologi telekomunikasi perlu digunakan.
Mulai dari penggelaran fiber optik, pembangunan base transceiver station (BTS), dan satelit seluruhnya dikombinasikan dan dimanfaatkan mengikuti karakter geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau dan wilayah pegunungan.
Baca juga: Kemkomdigi blokir 3.000 nomor telepon scam yang mengaku pejabat
Baca juga: Kemkomdigi blokir Polymarket, judol berkedok "Prediction Market"
Baca juga: Kajian PSE asing wajib berkantor di Indonesia ditarget selesai 2026
Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































