Yogyakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) RI Prof Fauzan telah meminta para perguruan tinggi di Indonesia untuk mengidentifikasi pakar maupun ahli kebencanaan yang dimiliki kampus tersebut.
Wamen di Yogyakarta, Rabu, mengatakan, pakar maupun ahli kebencanaan dari kampus sangat dibutuhkan bagi pemerintah maupun instansi terkait untuk bersama sama mengatasi bencana termasuk kejadian erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Sebagaimana yang kami sampaikan ketika press release menghadapi bencana erupsi Anak Krakatau, perguruan tinggi diminta untuk mengidentifikasi para pakar yang terkait dengan kebencanaan ini," katanya setelah membuka Sarasehan Sains dan Teknologi Yogyakarta.
Fauzan mengatakan, karena itu konsorsium perguruan tinggi se-DIY yang diluncurkan dalam sarasehan itu bisa menjadi forum mempertemukan perguruan tinggi negeri dan swasta dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan dunia industri dalam menggerakkan berbagai kepakaran.
Baca juga: Pakar minta pemerintah siapkan infrastruktur guna hadapi bencana
Dengan demikian, kata Wamen, tersedia pakar yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dan kemudian bekerja bersama instansi terkait, yang kajian dan catatan empiris dari perguruan tinggi dapat digunakan sebagai bahan dalam menentukan kebijakan.
"Kontribusi perguruan tinggi adalah memberikan catatan-catatan empiris yang akan dijadikan sebagai dasar untuk mengambil kebijakan-kebijakan lebih lanjut," katanya.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Yogyakarta Setyabudi Indartono mengatakan dengan terbentuknya konsorsium perguruan tinggi se-DIY tersebut maka upaya mempertemukan kebutuhan daerah dengan kapasitas perguruan tinggi telah mulai dilakukan.
LLDIKTI telah menginventarisasi berbagai persoalan yang dapat ditangani melalui kepakaran perguruan tinggi, dari proses itu, telah terbentuk 22 klaster yang menjadi dasar bagi perguruan tinggi untuk melihat persoalan yang relevan dengan bidang keahlian masing-masing.
"22 klaster yang tersebar di lima kabupaten dan kota di DIY itulah yang sudah 'link and match', antara permintaan penduduk dan kapasitas yang ada di perguruan tinggi," katanya.
Menurut dia, masing-masing perguruan tinggi selanjutnya akan melihat persoalan yang paling relevan dengan kapasitas untuk menentukan fokus penanganannya, sehingga konsorsium tidak berhenti pada pertemuan antarpihak, tetapi diarahkan pada persoalan konkret yang dapat ditangani bersama.
Baca juga: Pakar kebencanaan: Sekolah Sungai cegah banjir bandang NTT berulang
Baca juga: Pakar simpulkan Masamba terbentuk dari proses erosi dan sedimentasi
Pewarta: Hery Sidik
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































