Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal mengatakan bahwa pesantren saat ini berada pada titik krusial untuk melakukan transformasi total guna menjawab tantangan zaman yang kian kompleks.
Dia mengatakan transformasi pesantren bukan sekadar perubahan fisik atau pembangunan gedung semata, melainkan perubahan fundamental pada manusianya, metode pembelajarannya, hingga tujuan pendidikannya.
"Kita harus mampu mengintegrasikan kedalaman ilmu agama dengan penguasaan sains dan teknologi," kata Cucun dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Jumat.
Dia menyampaikan hal itu dalam momen peresmian Majelis Al-Halimah yang berlokasi di lingkungan Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Musri, Cianjur, Jawa Barat.
Cucun mengatakan pesantren memiliki akar tunggang yang kuat dalam membentuk karakter bangsa, tetapi harus tetap adaptif terhadap arus digitalisasi dan persaingan global.
Menurut dia, dari rahim pesantren harus lahir generasi yang tidak hanya berakhlakul karimah atau memiliki sikap terpuji, tetapi juga para santri harus mempunyai daya saing yang tinggi.
Dengan hal tersebut, menurut dia, dunia pesantren harus berkomitmen untuk mampu terus berinovasi. Majelis Al-Halimah, kata dia, harus menjadi simbol kebangkitan intelektual dan spiritualitas santri.
"Santri harus siap mengambil peran strategis dalam memimpin berbagai sektor pembangunan menuju visi Indonesia Emas 2045,” kata dia.
Dengan diresmikannya masjid itu, dia berharap Majelis Al-Halimah dapat menjadi pusat literasi dan konsolidasi gagasan bagi para santri dan masyarakat luas untuk terus berkontribusi bagi kemajuan agama, bangsa, dan negara.
Baca juga: Pentingnya bangun ekosistem pesantren agar terkoneksi kebutuhan zaman
Baca juga: Menko PM sebut pesantren sudah inovatif, tapi perlu penguatan
Baca juga: Rektor UIN: Pesantren berkontribusi besar bangun karakter bangsa
Pewarta: Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































