Jakarta (ANTARA) - PT Vale Indonesia Tbk membidik smelter nikel berbasis high pressure acid leaching (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, beroperasi pada kuartal ketiga 2026, lebih cepat dari target, yakni kuartal keempat 2026.
“Tadinya kami perkirakan fasilitasnya akan mulai dapat beroperasi di kuartal IV tahun ini, tetapi ternyata ada percepatan yang luar biasa dari mitra kami, sehingga kemungkinan bisa beroperasi lebih cepat, sejak kuartal III 2026,” ujar Head of Corporate Finance and Investor Relations PT Vale Indonesia Tbk Andaru Brahmono Adi dalam buka bersama yang digelar di Jakarta, Jumat.
Andaru menjelaskan bahwa smelter nikel HPAL di Pomalaa akan menghasilkan 120 ribu ton nikel dalam bentuk MHP atau Mixed Hydroxide Precipitate. MHP berbentuk bubuk berwarna hijau-abu-abu, mengandung campuran nikel dan kobalt hidroksida, serta menjadi bahan baku utama pembuatan baterai kendaraan listrik (EV).
Saat ini, lanjut Andaru, empat dari lima mesin sudah terpasang di proyek smelter nikel HPAL Pomalaa. Menurut dia, kemajuan proyek tersebut menambah keyakinan Vale ihwal dukungan para mitra terhadap keberlangsungan proyek smelter nikel berbasis HPAL di Pomalaa.
Baca juga: Vale sebut royalti dan B40 tekan biaya saat harga nikel turun
“Kami cukup optimis bahwa semuanya akan bisa kami capai,” ucap Andaru.
Melalui paparannya, Andaru menampilkan aktivitas pertambangan di Blok Pomalaa menghasilkan bijih nikel sebesar 7 juta wet metric ton (wmt) saprolite dan 21 juta wmt limonite per tahun.
“Dari sisi (tambang) Blok Pomalaa sendiri, per tahun ini pun kami sudah mulai operasi juga. Begitu kami terima kabar RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya)-nya sudah disetujui tahun ini, kami langsung bisa mulai operasi di Blok Pomalaa,” ujar Andaru.
Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari transformasi PT Vale Indonesia, dari yang beroperasi dengan satu tambang dan satu smelter, kini Vale sudah mengoperasikan tiga tambang.
“Dan insyaallah dalam waktu dekat akan bisa mulai mengoperasikan tambahan smelter-smelter baru,” ucap Andaru.
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































