Kala pohon pinang jadi pengingat sujud penyintas bencana

3 hours ago 3
Kehadiran para relawan membawa semangat baru bagi kami untuk bangkit melewati semua ini. Termasuk juga seperti kedatangan teman-teman dari ANTARA ini

Aceh Timur, Aceh (ANTARA) - Rabu yang kelam, 26 November 2025, saat banjir bandang menghantam Dusun Rantau Panjang Rubek, Desa Sijudo, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, masih melekat kuat dalam benak Jahidin. 

Tak ada yang menyangka, hari yang awalnya berjalan seperti biasa, ketika itu, berubah menjadi mimpi buruk bagi warga dusun kecil yang berada di tepi Sungai Arakundo tersebut.

Air yang datang bak tsunami begitu cepat memporak-porandakan seisi dusun yang dihuni 46 kepala keluarga hingga hanya tersisa satu rumah.

Jerit tangis ketakutan para perempuan dan anak-anak saat evakuasi masih membekas dalam ingatan Jahidin. Meski tidak merenggut nyawa, banjir itu meluluhlantakkan rumah, harta benda, dan lahan sumber utama kehidupan warga.

Jahidin yang juga menjabat Kepala Dusun itu tak sanggup melukiskan dengan kata-kata tentang bagaimana kesedihan warganya saat menyaksikan semua kehancuran.

Ia tahu bahwa mengingat kembali malapetaka itu seperti luka lama di tubuh yang berdarah lagi karena tertusuk duri. Namun, ia tak ingin benar-benar melupakannya.

Jahidin sengaja menyimpan fakta-fakta peristiwa bersejarah itu dalam ingatannya, bukan untuk memelihara luka, namun menjadi pelajaran kehidupan tentang apa yang seharusnya dilakukan penghuni bumi terhadap Sang Pencipta bumi beserta isinya.

"Ini pelajaran agar kita lebih bersujud lagi kepada Allah," ujar dia sembari  menunjuk pohon-pohon pinang yang pucuknya melengkung hingga ke tanah yang dimaknainya sebagai sikap sujud. Posisi pohon-pohon pinang tersebut mirip orang yang sedang sujud, dengan cara menundukkan kepala hingga menyentuh atau tanah.

Bagi Jahidin, bersujud bukan sekadar salah satu gerakan dalam shalat yang dilakukan umat Islam, tetapi merupakan bentuk penghormatan, kerendahan hati, dan kepatuhan manusia kepada Sang Penciptanya.

"Pohon-pohon pinang itu saja bersujud karena banjir yang merupakan kuasa Allah. Kita sebagai manusia seharusnya lebih dari itu," kata Jahidin.

Pemulihan

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Rakyat news | | | |