Usia yang tepat untuk diberi edukasi seks menurut HIMPSI

2 days ago 3

Jakarta (ANTARA) - Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) mengatakan usia 3 sampai 4 tahun menjadi usia yang tepat untuk mulai diberikan edukasi mengenai seks.

"Edukasi sudah bisa dimulai sejak usia dini kurang lebih 3-4 tahun, tentunya dengan bahasa yang sangat sederhana dan sesuai tahap perkembangan anak," kata Bendahara HIMPSI Wilayah Aceh Devi Yanti, M. Psi., Psikolog saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Devi menjelaskan pada usia tersebut fokus anak tidak terletak pada hubungan seksual, melainkan pada pengenalan tubuh, batasan diri, dan rasa aman. Di sini pendidikan seks berperan sebagai pendidikan tentang tubuh, relasi yang sehat, serta perlindungan diri dari kekerasan.

Materi yang diberikan dapat disesuaikan pada usia anak. Misalnya, pada anak berumur 3 sampai 5 tahun dapat mulai diajarkan mengenai nama-nama bagian tubuh dengan ejaan yang benar.

Orang tua perlu memasukkan area pribadi sebagai salah satu bagian tubuh yang disebut dengan benar. Dalam hal ini, tekankan bahwa bagian tubuh pribadi seperti alat kelamin dan payudara tidak boleh dilihat atau disentuh orang lain tanpa alasan medis dan pendampingan orang tua.

Baca juga: Lindungi anak dari kejahatan seksual dengan pendidikan sejak dini

Menurutnya, akan lebih baik jika anak diberi tahu mengenai perbedaan sentuhan yang baik, membingungkan dan tidak nyaman agar mereka dapat memahaminya dengan lebih jelas.

"Jangan lupa untuk ajarkan mengenai hak anak untuk berkata tidak dan melapor pada orang dewasa yang terpercaya," ujar Psikolog Klinis di Rumah Sakit Jiwa Aceh itu.

Pendidikan seks dapat dilanjutkan di usia 6 hingga 9 tahun. Pada usia ini anak dapat diberikan pemahaman yang lebih jelas tentang batasan tubuh dan privasi.

Ajarkan anak untuk mengingat atau mencatat siapa saja orang dewasa yang bisa dimintai pertolongan ketika mengalami pelecehan atau kasus kekerasan seksual.

Anak-anak juga harus sudah memahami risiko yang dapat timbul bila berinteraksi baik dengan orang asing maupun orang yang telah dikenal sebelumnya.

Diharapkan orang tua juga memasukkan materi mengenai dasar perubahan tubuh menjelang pubertas.

Sedangkan untuk usia pra remaja atau sekitar 10 tahun ke atas, Devi menekankan pentingnya anak paham perubahan fisik apa saja yang akan dialami serta bagaimana sisi emosionalnya saat masuk masa pubertas.

"Terkait hal ini anak-anak pun perlu diajarkan mengenai konsep relasi sehat, rasa hormat, dan persetujuan (consent), serta risiko kekerasan seksual, perundungan, serta keamanan di dunia digital," tambahnya.

Baca juga: KPPPA: Pentingnya edukasi seks cegah kekerasan seksual terhadap anak

Baca juga: Alissa Wahid pandang masyarakat masih alergi soal pendidikan seksual

Baca juga: UNFPA: Anak tunagrahita harus dibekali pendidikan kesehatan reproduksi

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |