Universitas Brawijaya tambah 10 guru besar bidang ilmu berbeda

2 hours ago 2

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Universitas Brawijaya (UB) menambah 10 guru besar dari berbagai bidang keilmuan berbeda yang akan dikukuhkan melalui dua gelombang, yaitu pada Selasa (10/2) dan Rabu (11/2).

Untuk pengukuhan yang dilaksanakan pada Selasa (10/2) adalah Prof Defri Yona sebagai profesor bidang pencemaran laut, Prof Fadly Usman sebagai profesor bidang ilmu manajemen kebencanaan, Prof Riyanto Haribowo sebagai profesor bidang ilmu kualitas air dan lingkungan, Prof Achmad Effendi sebagai profesor bidang statistika komputasi sosial ekonomi, dan Prof Trisilowati sebagai profesor bidang matematika biologi.

Sementara lima profesor yang dikukuhkan pada Rabu (11/2), yaitu Prof Mashudi dikukuhkan sebagai profesor bidang ilmu teknologi pakan ternak ruminansia, Prof Prija Jatmika sebagai profesor bidang ilmu hukum pidana, Prof Tri Yudani Mardining Raras sebagai profesor bidang biokimia biomolekuler, Prof Agustin Iskandar sebagai profesor ilmu patologi klinik/penyakit infeksi, dan Prof Tatit Nurseta sebagai profesor bidang ilmu obstetric dan ginekologi.

Baca juga: UB kukuhkan delapan profesor bidang ilmu berbeda

Prof Defri Yona dalam sesi konferensi pers di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur, Senin, menyatakan mengembangkan kerangka integratif resiko solutif (Keris Laut) untuk mendukung upaya pengendalian pencemaran laut.

"Kita tahu pencemaran laut itu berasal dari polutan yang masuk ke ekosistem laut, memberi dampak terhadap biota dan akhirnya ke manusia. Kita usahakan untuk melakukan pengendalian," kata Defri.

Metode yang dia kembangkan mengintegrasikan antara alur perpindahan pencemaran, proses akumulasi, tingkat risiko ekologis dengan kesehatan untuk menjadi menjadi satu sistem.

Keris Laut menyediakan dasar mengidentifikasi area pencemaran dan menentukan prioritas penanganan sekaligus merancang strategi mitigasi yang sesuai dengan karakteristik ekosistem serta tingkat resiko.

Sementara itu, Prof Agustin Iskandar menyampaikan mengembangkan model host oriented prognostic evaluation in infectious disease (HOPE-ID) sebagai pendekatan prognostik berbasis biomarker pada penyakit infeksi.

"Model ini mengintegrasikan biomarker inflamasi, disfungsi endotel, parameter molekuler, dan faktor klinis kontekstual dalam satu kerangka evaluasi prognostik," kata Agustin.

Baca juga: Guru Besar UB gagas model tata kelola ekosistem kelautan yang holistik

Baca juga: Universitas Brawijaya kukuhkan empat profesor bidang pangan

Dia menjelaskan HOPE-ID mempunyai kekuatan pada aspek pendekatan yang menggunakan multidimensional, relevansi lintas spektrum, dan potensi untuk dikembangkan melalui integrasi dengan kecerdasan buatan.

Pola tersebut bertujuan mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih presisi dan tepat waktu.

"HOPE-ID merepresentasikan pergeseran paradigma patologi klinik dari sekadar penegakan diagnosis menuju prediksi luaran klinis yang lebih bermakna dan presisi," ujar dia.

Pewarta: Ananto Pradana
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |