Unair gandeng OIC perkuat riset perubahan iklim dan kesehatan

2 days ago 2

Surabaya (ANTARA) - Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menggandeng Organization of Islamic Cooperation (OIC) Standing Committee on Scientific and Technological Cooperation (COMSTECH) untuk memperkuat kolaborasi riset internasional terkait perubahan iklim dan kesehatan global di berbagai negara.

“PR (Pekerjaan Rumah) utama di Indonesia, tidak hanya Unair, adalah bagaimana universitas dan industri ini berjalan baik. Kita mempunyai contoh yang bagus, yang bisa kita adopsi, kita laksanakan, dan tentunya mereka bisa mendukung kita karena mereka bagus sekali mendekatkan universitas dengan industri,” ujar Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Community Development Unair Muhammad Miftahussurur di Surabaya, Kamis.

Kerja sama tersebut membuka peluang bagi Unair memperluas jejaring penelitian ke kawasan nontradisional, seperti Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan melalui jaringan COMSTECH yang mencakup 44 negara dan lebih dari 50 perguruan tinggi dunia.

Dia mengharapkan kemitraan itu memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan industri guna meningkatkan pemanfaatan hasil riset bagi kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.

“Mereka kemarin sudah memberikan support expert-expert yang mempunyai H-Index tertinggi di dunia. Mereka bisa mempunyai H-Index yang di atas 60, 90, kita paling tinggi masih 30-an. H-Index itu kekuatan peneliti dunia, mereka mempunyai tinggi-tinggi untuk dikoneksikan pada kita,” katanya.

Executive Secretary Community Development Unair Ni Nyoman Tri Puspaningsih mengatakan perubahan iklim dan kesehatan global menjadi fokus utama kolaborasi karena kedua isu tersebut saling berkaitan dan memerlukan pendekatan multidisiplin.

“Seperti kemarin di Pakistan, kami terkait air pollution tapi indoor, di dalam rumah. Karena di beberapa desa mereka masih pakai kayu bakar atau merokok di dalam rumah. Jadi kan kaitannya dengan kesehatan sangat luas, kita bicara juga di climate, bicara juga health. Jadi climate dan health itu nggak bisa terpisah,” ujarnya.

Sepanjang 2026, Unair juga melaksanakan 10 program pengabdian masyarakat internasional di sejumlah negara, antara lain Malaysia, Thailand, Myanmar, Australia, Eswatini, dan Nigeria.

Menurut dia, kekuatan multidisiplin yang dimiliki Unair melalui bidang kesehatan, sains dan teknologi, ilmu hayati, serta ilmu sosial menjadi modal penting untuk menghasilkan solusi atas berbagai tantangan global.

“Itulah kekuatan Unair juga di sana. Kami kuat di health science, tapi kami juga ada fakultas sains dan teknologi, life sciences, social science. Ini multidisiplin dari pendekatannya untuk bisa memberikan impact dan solusi-solusi besar,” katanya.

Baca juga: UIN Jakarta gandeng Unair mutakhirkan kurikulum guna cetak SDM unggul

Baca juga: Guru Besar Unair paparkan konsep Smart Consumer Protection era digital

Pewarta: Willi Irawan
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |