Jakarta (ANTARA) - Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Bandung (ITB) mendampingi 39 guru sekolah dasar (SD) di Distrik Yapsi, Kabupaten Jayapura, Papua, memanfaatkan Papan Interaktif Digital (PID) untuk kegiatan pembelajaran.
Guru SD Inpres SP 6 Yapsi Maria mengatakan pendampingan membantu para guru memahami pengoperasian PID sekaligus memanfaatkan perangkat tersebut di tengah keterbatasan jaringan internet.
“Pendampingan ini sangat bermanfaat karena membantu kami yang awalnya belum mengetahui cara penggunaan PID menjadi lebih memahami pengoperasiannya,” kata Maria dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Kamis.
Maria mengatakan keterbatasan jaringan internet tidak harus menjadi penghalang bagi guru untuk memanfaatkan perangkat digital dalam menciptakan kegiatan belajar yang lebih menarik bagi siswa.
Program peningkatan kapasitas tersebut ditargetkan menjangkau 15 sekolah di Distrik Yapsi. Hingga kini, sebanyak 39 guru dari lima sekolah telah mengikuti pendampingan dan mempraktikkan penggunaan PID.
Lima sekolah tersebut yakni SD Negeri Bundru, SD Inpres SP 3, SD Inpres SP 4, SD Inpres SP 2, dan SD Inpres SP 6.
Materi pendampingan antara lain mencakup pengoperasian PID, pemanfaatan fitur anotasi pada layar, serta pembuatan Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI), termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam media pembelajaran.
Anggota Tim 10 TEP ITB Hilarius Donatus Hun mengatakan tim tetap menjangkau sekolah-sekolah sasaran meski menghadapi jarak tempuh dan kondisi jalan berbatu di wilayah pedalaman Yapsi.
Selain pendampingan guru, tim merencanakan penyerahan 15 unit laptop kepada 15 sekolah sasaran untuk mendukung kegiatan pembelajaran berbasis teknologi.
Tim juga menjadwalkan lokakarya bertema “Pembelajaran Mendalam” bersama akademisi Universitas Cenderawasih pada 19 September 2026 sebagai kelanjutan program peningkatan kapasitas guru.
Kementerian Transmigrasi menyebut kegiatan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap pemerataan pemanfaatan teknologi pendidikan, khususnya di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses digital.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menekankan pemanfaatan panel interaktif sebagai salah satu upaya memperluas akses siswa di seluruh Indonesia terhadap materi pembelajaran dan meningkatkan kualitas proses belajar melalui teknologi digital.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Juli 2026, program digitalisasi pembelajaran pada 2025 telah menjangkau 288.865 satuan pendidikan dengan PID dan perangkat pendukung. Sebanyak 8.265 satuan pendidikan juga memperoleh akses internet dan 2.389 satuan pendidikan mendapat dukungan listrik.
Pada periode yang sama, sebanyak 33.156 guru dan tenaga kependidikan telah mengikuti pelatihan pemanfaatan pembelajaran digital. Khusus di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), program tersebut menjangkau 13.838 sekolah, termasuk dukungan internet bagi 4.316 sekolah dan listrik bagi 49 sekolah.
Pemerintah juga menyalurkan 30.285 unit laptop dan perangkat penyimpanan eksternal untuk mendukung pembelajaran digital di wilayah 3T.
Baca juga: Prabowo ungkap digitalisasi pendidikan Indonesia diakui dunia
Pemerintah pada 2026 melanjutkan pengadaan PID sekaligus memperkuat pendampingan, konektivitas, pasokan listrik, dan kesiapan sumber daya manusia agar pemanfaatan perangkat semakin optimal.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara sebelumnya mengatakan peserta TEP diharapkan tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga mampu membantu menyelesaikan persoalan nyata yang ditemui masyarakat.
“Indonesia membutuhkan lebih banyak anak muda yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu memecahkan persoalan nyata di tengah masyarakat. Patriot muda harus jadi problem solver,” ujar Iftitah.
Baca juga: Kementrans optimalkan TEP meriset potensi ekonomi kawasan transmigrasi
TEP 2026 melibatkan 1.476 peserta yang terbagi dalam 246 tim untuk bertugas di 53 kawasan transmigrasi. Sebanyak 10 kawasan penugasan berada di Papua, sementara sekitar 1.200 peserta dalam kurang lebih 200 tim ditempatkan di wilayah Papua.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menilai temuan empiris TEP di lapangan dapat menjadi masukan penting untuk mempertemukan kajian akademis dengan kebijakan strategis pemerintah sehingga intervensi pembangunan lebih efektif dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































