Tiga perempuan sutradara menuturkan bekalnya masuk industri film

2 weeks ago 4

Jakarta (ANTARA) - Sutradara Hadrah Daeng Ratu, Naya Anindita, dan Ginanti Rona menuturkan bahwa kesukaan mereka membaca, menulis, dan bercerita membuat mereka kemudian tertarik untuk bekerja di industri film.

"Aku senang bercerita. Bahkan kalau aku bercerita di teman-teman, teman-teman tuh mendengarkan aku dari awal cerita sampai akhir," kata Hadrah dalam sesi bincang-bincang di Jakarta, Minggu.

Pendiri PH Narasi Semesta itu mengatakan bahwa dia terbiasa membaca buku cerita serta menulis cerpen dan prosa sejak sekolah menengah pertama.

Setelah mengikuti kegiatan teater semasa sekolah menengah atas, dia semakin menyadari kesukaannya bercerita, yang selanjutnya membuat dia tertarik menyajikan cerita lewat film.

Guna mengasah kemampuan, dia berusaha menambah wawasan dengan menonton satu film setiap hari ketika memulai karier di industri film.

Hadrah menonton berbagai genre film dan mempelajari proses pembuatannya.

Upayanya berbuah. Hadrah sudah menghasilkan banyak karya. Dia antara lain menyutradarai film "Assalamualaikum Baitullah", "Pantaskah Aku Berhijab", dan "Jangan Buang Ibu."

Baca juga: Penonton "Jangan Buang Ibu" capai tiga juta, Nirina lari 20 km

Sutradara Naya Anindita juga suka bercerita sejak kecil. Kesukaan ayahnya membuat naskah film membuat dia kemudian tertarik pada perfilman.

"Ayahku suka membuat script untuk film yang hanya ditonton oleh keluarga besar kami," kata sutradara film "Komang", "Tunggu Aku Sukses Nanti", dan "Agensi Rumah Tangga" itu.

"Awalnya sebagai remaja aku enggak mau terlibat, tapi dalam perjalanannya, aku akhirnya merasa menemukan bahwa kayaknya dari semua yang aku coba ini yang paling cocok," kata Naya, yang kemudian mempelajari multimedia dan penyiaran.

Sutradara Ginanti Rona menuturkan bahwa kegemaran membaca dan bercerita serta kebiasaan menulis buku harian membuat dia tertarik untuk belajar perfilman di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Setelah itu, keterlibatan dalam produksi film membantunya memahami kompleksitas pekerjaan dan melatih kemampuannya bekerja di industri film.

"Dengan kompleksitas atau tekanan yang kita hadapi itu, akhirnya juga melatih kita untuk bisa punya mental atau kemampuan," kata sutradara film "Qorin" dan "Dasim" itu.

"Dan kita jadi tahu, dan sejauh mana kita bisa tetap bertanggung jawab dan bekerja kita sebaik mungkin dan akhirnya membawa kita lebih jauh lagi ke mimpi kita," katanya.

Baca juga: Sutradara ungkap pertimbangan dalam menentukan pemeran film

Baca juga: Film "Agensi Rumah Tangga" tampilkan potret perjuangan perempuan

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |