Jakarta (ANTARA) - Bagi banyak masyarakat di tanah air, awal 2026 dibuka dengan kabar tentang harga bahan pokok yang merangkak naik, tagihan listrik yang terasa makin berat, dan berita perang yang terdengar jauh, tetapi dampaknya perlahan sampai ke dapur dan meja makan.
Dunia bergerak cepat, sementara jutaan orang berusaha menjaga keseimbangan hidup mereka di tengah ketidakpastian yang tidak mereka ciptakan sendiri.
Dalam suasana itulah Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, berdiri di panggung World Economic Forum Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss.
Di hadapan para pemimpin dunia, pelaku usaha global, dan pemikir kebijakan, Indonesia hadir membawa cerita sebuah negara berkembang yang mencoba membaca gejolak global dari sudut pandang kesejahteraan manusia, bukan semata-mata dari grafik pertumbuhan dan proyeksi pasar.
Konflik geopolitik yang belum mereda, tekanan krisis energi dan pangan, serta rapuhnya rantai pasok global menjadi latar bagi cara sejumlah kalangan menafsirkan pidato tersebut.
Bagi mereka, kehadiran Indonesia di Davos tidak berhenti pada formalitas diplomasi, melainkan menjadi upaya menyumbangkan kerangka pemikiran dan arah kebijakan yang lahir dari pengalaman membangun di tengah keterbatasan, sekaligus menawarkan stabilitas, kedaulatan ekonomi, dan pembangunan manusia sebagai fondasi bagi masa depan ekonomi dunia.
Pidato itu memperlihatkan upaya membawa Prabowonomics sebagai pendekatan ekonomi yang melampaui perdebatan tentang angka dan target jangka pendek.
Dalam pandangannya, penekanan pada stabilitas, kedaulatan ekonomi, dan pembangunan manusia menjadi pengingat bahwa keberlanjutan jangka panjang ditentukan oleh kualitas tata kelola dan kapasitas manusia yang menjalankan sistem ekonomi.
Komitmen Presiden untuk menurunkan kemiskinan di Indonesia, yang disampaikan dalam forum tersebut, memberi dimensi moral pada narasi ekonomi yang dibawa ke panggung global.
Di ruang yang kerap dipenuhi diskusi tentang pasar dan investasi, isu kesejahteraan rakyat diangkat sebagai bagian dari strategi pembangunan.
Pendekatan ini menjadi sinyal bahwa pertumbuhan dan pemerataan tidak seharusnya ditempatkan sebagai dua jalur yang saling berlawanan, melainkan sebagai proses yang saling menguatkan untuk menjaga stabilitas sosial dan politik.
Baca juga: CORE: Pidato Prabowo di WEF sampaikan sinyal positif ke investor
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































