Manado (ANTARA) - Pagi di Pulau Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara, biasanya dimulai dengan suara ombak dan aktivitas nelayan. Namun, selama tiga bulan terakhir, ada satu hal yang lebih dulu dicari warga: air bersih.
Kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Niño membuat sumber-sumber air yang selama ini menjadi tumpuan warga perlahan mengering. Air sumur yang biasanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari mulai menyusut dan semakin sulit diandalkan penduduk di sana.
Seperti warga di tempat lain, penduduk Bunaken membutuhkan air untuk berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari mandi, memasak, dan mencuci hingga memenuhi kebutuhan keluarga para nelayan.
Setiap pagi, sebagian warga harus mencari sumber air yang masih tersedia. Ember dan jeriken menjadi barang yang tak pernah jauh dari tangan mereka. Mereka rela berjalan lebih jauh, menunggu giliran, bahkan menghemat air sedemikian rupa agar persediaan yang didapat bertahan hingga esok hari.
Baca juga: Krisis hidrometeorologi yang kian nyata di depan mata
Di rumah, penggunaan air mulai diperhitungkan dengan cermat. Air untuk minum dan memasak menjadi prioritas. Air untuk mandi, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah harus digunakan sehemat mungkin. Anak-anak pun mulai memahami bahwa air bersih sangat berharga dan tidak boleh terbuang sia-sia.
Namun, tiga bulan bukan waktu yang singkat. Rasa lelah dan cemas mulai muncul. Warga bertanya-tanya sampai kapan kondisi ini akan berlangsung.
Mereka berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait dapat membantu mereka mencari solusi agar ketersediaan air bersih tidak hanya bergantung pada bantuan sementara.
Bagi masyarakat Bunaken, dampak El Niño terasa nyata pada setiap jeriken yang harus diangkut dan setiap sumur yang mengering, bahkan berubah menjadi asin.
Warga Bunaken tetap melaut, bekerja, bersekolah, memasak, dan merawat keluarga. Namun, di tengah semua aktivitas itu, mereka berharap hujan segera turun agar sumber air kembali terisi.
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































