Suar kemanusiaan di belantara pegunungan karst bumi Celebes

1 week ago 6
Selama sepekan penuh para personel SAR gabungan bekerja di bawah tekanan, risiko, dan keterbatasan, namun tetap berpadu menyalakan suar kemanusiaan

Jakarta (ANTARA) - Pegunungan Bulusaraung, kawasan yang dijuluki “adventure paradise” oleh pegiat olahraga ekstrem, dengan tebing cadas curam dan lorong-lorong karstnya yang eksotis, berubah menjadi medan duka ketika sebuah pesawat ATR 42-500 jatuh dan hancur tercerai-berai di bentang alamnya.

Bulusaraung berada dalam kawasan karst purba Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT tersebut disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Sebelumnya, pesawat itu bertolak dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Dalam penerbangan tersebut, terdapat 10 orang di dalam pesawat.

Begitu kabar hilangnya pesawat diterima, operasi pencarian dan pertolongan (SAR) segera digelar pada Sabtu (17/1) sore. Basarnas melalui Kantor SAR Makassar bersama unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, serta masyarakat setempat membentuk tim SAR gabungan.

Mereka mendirikan posko operasi di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, sebagai wilayah terdekat dari titik penemuan awal, sehingga memungkinkan menjadi pusat kendali bagi seluruh pergerakan personel di lapangan.

Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Makassar Andi Sultan ditunjuk sebagai koordinator lapangan atau On Screen Cordinatoor (OSC). Dia bertanggung jawab penuh dalam pembagian tugas ratusan petugas SAR Unit (SRU) dalam operasi tersebut, dengan didampingi sejumlah perwira Kodam XIV/Hasanuddin dan Polda Sulawesi Selatan.

Dalam operasi SAR yang melibatkan lebih dari 300 personel tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri serta unsur relawan, termasuk organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) dan petugas dari organisasi filantropi nasional itu, mereka dibagi menjadi 16 tim SRU yang disebar ke dalam sejumlah koordinat pencarian.

Kegiatan itu mulai dari penyisiran udara yang difokuskan untuk mempersempit area dugaan jatuhnya pesawat. Sementara tim SRU darat bergerak menyusuri lereng, lembah, dan jalur alami di kawasan pegunungan. Informasi dari warga sekitar serta hasil pemantauan visual menjadi petunjuk penting dalam menentukan arah pencarian.

Operasi SAR di pegunungan Bulusaraung bukanlah tugas biasa apalagi mudah. Medan ekstrem memaksa tim berjalan kaki menanjak selama berjam-jam dengan membawa peralatan berat jungle rescue.

Bahkan mereka terpaksa membuka jalur-jalur evakuasi secara manual dengan menembus rapatnya pohon hutan hingga memanjat tebing, dan menuruni lereng curam yang sebagian besar belum terjamah. Belum lagi cuaca buruk yang terus membayangi mereka sepanjang hari.

Sinar terik matahari pun terasa asing karena hujan dan kabut tebal menyelimuti kawasan gunung yang puncaknya 1.359 meter di atas permukaan laut (DPL). Kondisi ini membuat jarak pandang sangat terbatas, kurang dari lima meter, sehingga tingkat risiko bagi personel semakin tinggi.

Baca juga: Korban ATR 42-500 di jurang 200 meter dievakuasi helikopter Basarnas

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |