London (ANTARA) - Perdana Menteri Inggris Raya Keir Starmer berbicara dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Minggu (15/3) malam, untuk berdiskusi tentang situasi di Timur Tengah dan disrupsi pengiriman global yang disebabkan penutupan Selat Hormuz.
Dalam percakapan tersebut, Starmer menekankan pentingnya membuka kembali jalur perairan strategis itu untuk membantu memulihkan rute pengiriman normal dan meredam kenaikan biaya global, menurut pernyataan dari 10 Downing Street.
Kedua pemimpin sepakat untuk tetap menjalin komunikasi yang erat terkait perkembangan di kawasan tersebut.
Menteri Energi Inggris Ed Miliband sebelumnya pada Minggu yang sama mengatakan bahwa mengakhiri konflik yang sedang berlangsung merupakan "cara terbaik dan paling konklusif" untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur sempit strategis yang dilalui sekitar seperlima dari kebutuhan minyak dunia, sembari memperingatkan bahwa situasi itu merugikan perekonomian global.
"Lonjakan harga minyak dan gas yang sedang kita saksikan disebabkan oleh penutupan Selat tersebut," ujar Miliband kepada media Inggris.
Inggris ingin bekerja sama dengan para sekutu untuk membuka kembali Selat itu, ujar Miliband menambahkan.
Trump pada Sabtu (14/3) mengatakan di media sosial bahwa "banyak negara" akan mengirimkan kapal perang untuk menjaga agar Selat Hormuz tetap terbuka, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan kota-kota lainnya di Iran, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, komandan-komandan militer senior, dan lebih dari 1.300 warga sipil.
Iran membalas dengan melancarkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan serta aset Israel dan AS di seluruh kawasan Timur Tengah. Saat serangan memasuki pekan ketiga, dan dengan penutupan efektif Selat Hormuz, gangguan terhadap pasar energi dan ekonomi global menjadi semakin parah.
Dalam pesan pertamanya sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei berjanji akan mempertahankan pengaruh atas Selat Hormuz.
Pewarta: Xinhua
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































