Si bayi kecil "peserta" SEA Games

1 month ago 27
Kontingen Indonesia punya tiga orang perempuan peraih emas yang juga sedang berjuang dalam proses kehamilan

Bangkok (ANTARA) - Angin di lapangan panahan SEA Games 2025, SAT, Bangkok, hembusannya berubah cepat, kadang menguat, kadang menghilang, membuat atlet harus pandai-pandai membaca ulang setiap keputusan.

Diananda Choirunisa merasakannya sejak awal. Anginnya menguji teknik, dan juga menantang keberanian mengambil risiko.

Di tengah kondisi itu, atlet yang akrab disapa Anis, menutup kompetisinya dengan dua medali emas. Yang dia bilang, hasil dari kerja tim selama setahun penuh, patut disyukuri.

Target pribadinya memang lebih tinggi, tetapi dua emas sudah cukup menjadi penegas bahwa proses panjang yang ia jalani tidak melenceng.

Beberapa jam sebelum bertanding, Anis baru menyadari satu hal lain yang tak kalah penting: ia sedang hamil.

Tanpa rencana dan tanpa persiapan mental, kabar itu datang begitu saja. Ia menerimanya dengan tenang. Tidak panik.

Baginya, itu bagian dari rezeki, karunia Tuhan, datang bersamaan dengan kesempatan bertanding di panggung olahraga Asia Tenggara.

Tapi, sungguh si bayi amat pengertian. Rasa mual trimester pertama kehamilan hanya hadir di pagi dan malam hari, tetapi menghilang ketika ia mulai membidik.

Fokus tidak terbelah. Ia bertanding seperti biasa, seolah tubuh dan pikirannya sepakat untuk menjaga ritme hingga pertandingan selesai.

Di babak penentuan, skor sempat berjalan di angka yang tidak menguntungkan. Beberapa kali anak panah berhenti di tujuh, yang membuat keunggulan Anis memudar.

Di titik itu, Anis tidak mengubah teknik secara drastis. Ia memilih mempercayai kemampuannya sendiri, satu keputusan mental yang kemudian membuka jalan menuju angka sempurna.

Pelatih panahan Indonesia, Hendra Setijawan, menyaksikan langsung situasi tersebut. Ia menilai kondisi angin saat itu tergolong ekstrem, bahkan bisa menghilangkan kestabilan bidikan hingga separuhnya.

Dalam situasi seperti itu, menurut Hendra, ruang untuk koreksi teknis hampir tidak ada. Yang tersisa hanyalah ketegasan mengambil keputusan.

Hendra melihat Anis sebagai atlet dengan karakter berani. Dalam latihan, dia tidak terlalu terpaku pada skor, melainkan pada rasa dan alur gerak.

Pendekatan itu membuatnya lebih cepat menemukan feeling, terutama ketika tekanan datang. Bagi Hendra, keberanian semacam itu tidak bisa dibentuk secara instan, ia lahir dari jam latihan panjang dan kepercayaan pada diri sendiri.

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |