Setahun CKG, awal sehat pangkal produktif

1 hour ago 4
Saat ini, tantangan yang masih ada dalam CKG adalah cakupannya. Baru 24,9 persen penduduk Indonesia yang mengikuti program nasional tersebut.

Jakarta (ANTARA) - "Mencegah lebih baik daripada mengobati."

Petuah klasik ini, dan berbagai variannya, sering digaungkan untuk menyoroti pentingnya bersiap-siap sejak awal daripada menuai hasil yang tidak diinginkan.

Prinsip ini juga yang jadi dasar lahirnya Cek Kesehatan Gratis (CKG), salah satu program Presiden Prabowo Subianto di bidang kesehatan, yang bermaksud menggeser paradigma kesehatan Indonesia yang awalnya kuratif menjadi promotif dan preventif.

Setahun sejak diumumkan pada 10 Februari 2025, Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu gerakan terbesar dalam sejarah nasional. Dari target sebanyak sekitar 280 juta orang, di tahun pertamanya CKG menjangkau sekitar 70,2 juta orang peserta yang hadir dari 73,1 juta yang mendaftar, per data Kemenkes pada 29 Desember 2025.

Dengan paket-paket yang disesuaikan faktor risiko tiap kelompok umur, peserta CKG mencakup mulai dari bayi baru lahir hingga lansia, dari Sabang sampai Merauke, dilayani oleh 10.588 fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjadikan kesehatan sebagai sebuah investasi masa depan.

Di panggung global, yakni World Economic Forum (WEF) 2026, Presiden menyebutkan bahwa CKG bukan hanya program populis, melainkan langkah rasional untuk meningkatkan produktivitas melalui deteksi dini penyakit.

Sehat pangkal hemat

Menemukan risiko penyakit sejak awal dapat mengurangi beban biaya kesehatan hingga miliaran dolar AS di kemudian hari, sebuah angka yang signifikan.

Di sepanjang 2025 saja, dari Rp190,3 triliun klaim yang dibayarkan BPJS Kesehatan, sebanyak Rp50,2 triliun digelontorkan untuk 59,9 juta kasus penyakit kronis, seperti sakit jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, sirosis hati, thalassemia, dan hemofilia.

Kepala Humas BPJS Kesehatan Rizzky Anugerah mengatakan, penyakit jantung menduduki peringkat pertama dengan total 29,7 juta kasus dan biaya Rp17,3 triliun. Sementara, gagal ginjal menempati peringkat kasus kedua terbanyak dengan total 12,6 juta kasus dan biaya Rp13,3 triliun, disusul dengan penyakit kanker yang berjumlah 7,2 juta kasus dan menelan biaya Rp10,3 triliun.

Data-data ini relevan dengan apa yang ditemukan oleh CKG. Sejumlah faktor risiko penyakit-penyakit kronis itu, seperti obesitas sentral, aktivitas fisik yang kurang, dan konsumsi gula, garam, lemak berlebih banyak ditemukan di berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak, dewasa, hingga lanjut usia.

Pada kelompok umur dewasa, satu dari tiga orang mengalami obesitas sentral, dan sebanyak tujuh juta mengalami hipertensi atau pre-hipertensi. Kemudian, sebanyak 100 ribu orang memiliki diabetes atau pre-diabetes, di mana gula darahnya di atas kadar yang normal.

Sedangkan pada kelompok lanjut usia, sebanyak 51 persen di antaranya tekanan darahnya di atas normal.

Adapun dalam CKG untuk kelompok usia sekolah dan remaja, 7 dari 100 remaja mengalami gizi lebih dan obesitas. Dari 18 juta anak yang diperiksa, 1,3 juta kurang aktivitas fisik. Selain itu, 1 dari 5 peserta mengalami hipertensi.

Baca juga: Terus perbaiki kualitas, riwayat imunisasi dicantumkan dalam CKG

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |