Kepolisian usut dugaan pelecehan siswi di Jaktim

1 hour ago 3
Dari keterangan saksi, admin grup itu adalah salah satu guru olahraga

Jakarta (ANTARA) - Kepolisian mengungkap kasus dugaan pelecehan psikis terhadap seorang siswi berinisial N di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur.

"Benar adanya dugaan tindak pidana kekerasan psikis terhadap anak. Korban berinisial N," kata Wakasat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Timur, Kompol Sri Yatmini di Polres Metro Jakarta Timur, Selasa.

Sri menyebutkan, peristiwa tersebut sebenarnya sudah terjadi sejak satu tahun yang lalu, saat korban masih bersekolah di salah satu SMA di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Korban merupakan siswi yang sempat menempuh pendidikan di SMA kawasan Pasar Rebo sejak kelas 10 hingga kelas 11.

Namun, saat memasuki kelas 12, korban pindah ke sekolah lain di wilayah Jakarta Timur (Jaktim). Perpindahan sekolah tersebut membuat korban tidak lagi aktif berinteraksi dengan lingkungan sekolah lamanya.

Baca juga: Anak influencer diduga jadi korban "bullying" dan pelecehan seksual

Meski demikian, peristiwa dugaan pelecehan justru baru diketahui korban setelah menerima rekaman percakapan dari salah satu temannya.

"Pada awalnya korban tidak mengetahui adanya percakapan tersebut. Informasi itu baru diketahui setelah salah satu temannya yang masih bersekolah di sana merekam percakapan dalam grup WhatsApp," katanya.

Menurut dia, grup WhatsApp (WA) tersebut beranggotakan guru dan siswa laki-laki. Dalam grup itu, para anggota diduga membahas korban dengan menggunakan kalimat-kalimat yang tidak pantas dan mengarah pada unsur seksual.

"Grup itu berisi guru dan siswa laki-laki semua, jumlah anggotanya lebih dari 15 orang," ujar Sri.

Dalam percakapan tersebut, korban disebut dengan kata-kata yang dinilai melecehkan dan merendahkan martabatnya sebagai perempuan.

Baca juga: Influencer H bakal laporkan dugaan "bullying" dan pelecehan anaknya

Menurut dia, ada kata-kata tidak senonoh. "Seperti 'seksi' dan kalimat lain yang menurut korban tidak senonoh dan menjurus kepada seksual," ungkap Sri.

Rekaman percakapan tersebut diterima korban pada 30 Januari 2026 melalui salah satu temannya yang masih bersekolah di SMA lamanya.

Teman korban tersebut diketahui berjenis kelamin perempuan dan secara tidak sengaja melihat isi percakapan dalam grup tersebut.

"Temannya ini kebetulan perempuan. Dia melihat telepon seluler yang berisi percakapan itu, kemudian merekamnya dan mengirimkannya kepada korban," ujar Sri.

Setelah mengetahui isi percakapan tersebut, korban mengaku mengalami tekanan psikis dan merasa dilecehkan. Korban kemudian menceritakan kejadian itu kepada orang tuanya.

Baca juga: Pemkot Jaktim dalami dugaan "bullying" dan pelecehan di sekolah

Mengetahui hal tersebut, keluarga korban memutuskan untuk menempuh jalur hukum. Pada 2 Februari 2026 sekitar pukul 19.30 WIB, korban bersama ibunya mendatangi Polres Metro Jaktim untuk membuat laporan resmi.

"Pada tanggal 2 Februari 2026 sekitar pukul 19.30 WIB, korban diantar oleh ibunya untuk melaporkan kejadian ini ke Satuan PPO dan PPA," kata Sri.

Dalam laporan tersebut, ibu korban bertindak sebagai pelapor, sementara korban tercatat sebagai pihak yang mengalami langsung dugaan kekerasan psikis.

Berdasarkan keterangan saksi, grup WA tersebut diduga dikelola oleh salah satu guru di sekolah. Guru tersebut diketahui merupakan guru olahraga dan diduga menjadi admin grup.

"Dari keterangan saksi, admin grup itu adalah salah satu guru olahraga," ujar Sri.

Baca juga: Lebih dari dua siswi diduga jadi korban pelecehan guru di Pasar Rebo

Meski demikian, pihak Kepolisian masih mendalami peran masing-masing anggota grup, termasuk keterlibatan guru dan siswa lainnya dalam percakapan tersebut.

Sebelumnya, kuasa hukum salah satu korban berinisial N, yakni Wanda Al-Fathi Akbar mengungkapkan, kasus dugaan pelecehan yang melibatkan oknum guru di salah satu SMA di kawasan Pasar Rebo, tidak hanya menimpa dua orang siswi.

"Yang kita dapat ada beberapa korban. Memang mungkin selama ini mereka enggak berani 'speak up'. Estimasi mungkin lebih dari dua orang," kata Wanda di Jakarta, Selasa.

Wanda menyebutkan, selama ini banyak korban yang memilih diam dan belum berani mengungkapkan pengalaman tak menyenangkan yang mereka alami.

Setelah salah satu korban berani melapor, korban-korban lain mulai bermunculan. Kasus dugaan pelecehan tersebut diduga telah berlangsung cukup lama dan selama ini tidak terungkap ke publik.

Baca juga: Warga Jakarta diminta tak ragu laporkan aksi pelecehan seksual

Selain melapor ke Kepolisian, pihaknya juga telah mendatangi pihak sekolah untuk mengonfirmasi status terduga pelaku yang merupakan guru di sekolah tersebut

Menurut Wanda, pihaknya meminta agar sekolah tidak lepas tangan dan turut mengawal proses hukum yang berjalan.

Tak hanya itu, sejumlah siswa di sekolah tersebut menggelar aksi demonstrasi pada Senin (9/2) sebagai bentuk solidaritas terhadap para korban dugaan pelecehan yang dilakukan oleh oknum guru terhadap siswinya.

Para siswa membawa poster dan menyampaikan orasi yang menuntut keadilan dan transparansi penanganan kasus tersebut. Mereka mendesak pihak sekolah dan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dugaan pelecehan yang terjadi.

Dalam aksi tersebut, mereka menyebut dugaan pelecehan telah berlangsung sejak lama. Hal ini diperkuat oleh sejumlah alumni yang mulai berani menyuarakan pengalaman serupa.

Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Sri Muryono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |