Senat AS gagal loloskan RUU pendanaan DHS seusai 'shutdown'

4 hours ago 2

Washington (ANTARA) - Senat Amerika Serikat (AS) pada Kamis (12/3) gagal meloloskan rancangan undang-undang (RUU) yang telah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS untuk mendanai Departemen Keamanan Dalam Negeri (Department of Homeland Security/DHS), yang pengoperasiannya telah terhenti (shutdown) selama hampir sebulan akibat perbedaan pendapat bipartisan soal penegakan imigrasi.

Pemungutan suara prosedural berakhir dengan hasil 51-46, gagal mencapai ambang batas 60 suara yang diperlukan untuk meloloskan RUU tersebut.

Senator John Fetterman dari Pennsylvania merupakan satu-satunya anggota Partai Demokrat yang memberikan suara setuju dengan Partai Republik untuk mendukung RUU pendanaan itu.

Penembakan fatal terhadap dua warga AS, yakni Renee Good dan Alex Pretti, oleh aparat penegak hukum federal di Minneapolis pada Januari lalu telah mendorong Partai Demokrat mengupayakan perubahan tata cara pengoperasian lembaga-lembaga imigrasi.

Perbedaan pendapat mengenai regulasi penegakan imigrasi menyebabkan kebuntuan di Kongres AS, karena Partai Demokrat meminta pendanaan DHS dihapuskan dari paket pendanaan omnibus, sehingga berujung pada penutupan pemerintahan (shutdown) parsial yang berlangsung singkat dari 31 Januari hingga 3 Februari.

Kongres AS kemudian meloloskan sebuah paket pendanaan, yang mendanai beberapa lembaga federal AS untuk sisa tahun fiskal, namun DHS hanya menerima resolusi lanjutan selama dua pekan pada tingkat pendanaan saat ini, yang membuat kedua partai dan Gedung Putih harus melanjutkan negosiasi.

Dalam empat pekan terakhir, negosiasi antara kedua partai terkait penegakan imigrasi tak banyak menunjukkan kemajuan.

Sementara itu, sejumlah fungsi DHS, termasuk Badan Keamanan Transportasi (Transportation Security Administration/TSA), Penjaga Pantai (Coast Guard), dan Badan Manajemen Darurat Federal (Federal Emergency Management Agency), lumpuh. Kepadatan dilaporkan terjadi di beberapa bandara di AS dalam beberapa hari terakhir, karena TSA mengalami kekurangan staf di tengah shutdown parsial.

Pewarta: Xinhua
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |