Kadin: Konflik Iran-AS jadi alarm ketahanan energi dan pangan

3 hours ago 4
Itu mesti dijaga, baik sebagai industri maupun stabilitas nasional

Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie mengatakan konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi dan pangan sebagai fondasi stabilitas nasional.

“Kalau yang terpikir di depan mata ada dua: bagaimana memperkuat ketahanan pangan dan ketahanan energi. Itu mesti dijaga, baik sebagai industri maupun stabilitas nasional,” kata Anindya dalam acara silaturahmi Kadin Indonesia di Jakarta, Jumat.

Ia menjelaskan bahwa meski dampak besar terhadap dunia usaha belum terlihat signifikan, tanda-tanda gangguan rantai pasok dan logistik mulai dirasakan pelaku usaha.

Menurut Anindya, dunia usaha harus tetap waspada, terutama menghadapi potensi kenaikan harga minyak yang dapat menekan ruang fiskal, nilai tukar, hingga inflasi.

Ia menekankan perlunya efisiensi serta kerja sama erat dengan pemerintah untuk menentukan program prioritas yang mampu mempercepat efek berganda bagi perekonomian.

“Kita mesti pandai-pandai memikirkan bagaimana geopolitik ini berdampak pada ekonomi Indonesia dan apa yang harus dikuatkan. Outlook ekonomi dunia sudah berubah, jadi kita tidak bisa menganggap enteng,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga komoditas, khususnya minyak, terutama jika terjadi penutupan Selat Hormuz.

Ia menyebut kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban impor migas Indonesia, menekan surplus neraca perdagangan, sekaligus mempengaruhi neraca pembayaran.

Purbaya menambahkan ketidakpastian global juga bisa memicu arus modal keluar (capital outflow) yang berimbas pada pasar saham, obligasi, serta nilai tukar rupiah, sekaligus meningkatkan biaya pendanaan.

“Pemerintah terus memantau perkembangan ini secara ketat, memastikan instrumen APBN bekerja secara responsif dan menjaga fiskal tetap prudent agar kebijakan tetap terukur guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat,” katanya ujarnya dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Rabu.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya mengatakan Indonesia telah mengamankan pasokan energi dari berbagai sumber di luar Timur Tengah sebagai langkah mitigasi menghadapi dampak perang AS dan Iran.

Ia menyebut sejumlah alternatif pasokan energi berasal dari kerja sama perdagangan dengan AS serta akses pasokan yang dimiliki oleh PT Pertamina dari Venezuela.

Baca juga: Bappenas: Ketahanan air, energi dan pangan jadi dasar pembangunan

Baca juga: Pertamina cari sumber impor alternatif di tengah dinamika Selat Hormuz

Baca juga: Pemerintah percepat pemanfaatan EBT untuk kurangi energi fosil

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |