Sejarah di balik Hari Pahlawan 10 November

3 months ago 14

Jakarta (ANTARA) - Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November merupakan momentum bagi bangsa Indonesia untuk mengenang jasa para pejuang yang rela mengorbankan segalanya demi kemerdekaan tanah air.

Penetapan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan pun memiliki makna mendalam, yakni untuk menghormati para pejuang yang telah mempertahankan kemerdekaan Indonesia dalam Pertempuran Surabaya tahun 1945.

Asal-usul Hari Pahlawan

Hari Pahlawan tidak lepas dari peristiwa bersejarah Pertempuran Surabaya, yang dilatarbelakangi dari kedatangan pasukan Sekutu ke kota Surabaya setelah Indonesia meraih kemerdekaannya pada 1945.

Pada 25 Oktober, pasukan Sekutu yang terdiri atas tentara Inggris tiba di Surabaya atas perintah Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI). Dibawah pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, tugas mereka adalah membebaskan para tahanan perang, melucuti senjata tentara Jepang, serta membantu memulihkan keamanan dan ketertiban di Wilayah Indonesia

Namun, ternyata kedatangan Inggris dibersamai oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA)—organisasi sipil dan militer Belanda yang berupaya mengambil alih kembali kekuasaan di Indonesia.

Sesaat setelah memasuki Surabaya, Pasukan Sekutu—yang kini terdiri dari gabungan tentara Inggris dan Belanda—segera mendirikan pos pertahanan dan menyerbu penjara-penjara untuk membebaskan tawanan perang yang sebelumnya ditahan oleh pihak Indonesia.

Hal ini memicu kontak senjata pertama antara tentara Inggris dan pejuang Surabaya pada 27 Oktober 1945. Keesokan harinya, di bawah komando Bung Tomo, pasukan Indonesia berhasil melancarkan serangan terhadap pos-pos pertahanan Sekutu dan berhasil menguasai sejumlah titik penting di Surabaya.

Meski sempat mereda setelah tercapainya gencatan senjata pada 29 Oktober, ketegangan kembali memuncak setelah Mallaby tewas pada 30 Oktober. Peristiwa ini memicu kemarahan pihak sekutu, yang kemudian mengeluarkan ultimatum kepada pihak Indonesia.

Ultimatum yang dikeluarkan langsung oleh pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh, berisi perintah agar para pejuang Surabaya menyerahkan senjata mereka dan menghentikan perlawanan.

Namun, instruksi tersebut ditolak keras oleh para pejuang yang menolak tunduk pada Sekutu. Penolakan inilah yang kemudian memicu pecahnya peristiwa besar pada 10 November 1945.

Hari itu, pertempuran dahsyat antara Sekutu dan para pejuang Surabaya tak terhindarkan. Ribuan arek-arek Suroboyo gugur demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pertempuran Surabaya yang berlangsung hingga akhir November 1945 ini kemudian dikenang salah satu sebagai peristiwa paling heroik dalam sejarah perjuangan bangsa.

Oleh karena itu, melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959, 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan yang diperingati setiap tahunnya.

Tema peringatan Hari Pahlawan 2025

Berdasarkan Pedoman Penyelenggaraan Peringatan Hari Pahlawan tahun 2025 yang diterbitkan oleh Kementerian Sosial (Kemensos), tema kali ini mengusung “Pahlawanku Teladanku: Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan”.

Melalui tema ini, seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi penerus, diajak untuk menyalakan semangat nasionalisme, meneladani perjuangan pahlawan, serta bergerak maju untuk melanjutkan perjuangan demi Indonesia Emas.

Meskipun waktu telah berlalu puluhan tahun sejak peristiwa heroik dalam mempertahankan kemerdekaan itu, kisah perjuangan para pahlawan tetap abadi sebagai pengingat bahwa kebebasan yang kita rasakan hari ini lahir dari perjuangan dan pengorbanan yang tak ternilai.

Baca juga: Kumpulan 30 ucapan Hari Pahlawan untuk membangkitkan jiwa patriotisme

Baca juga: Masyarakat diajak heningkan cipta satu menit pada 10 November

Baca juga: Relevan sepanjang masa, ini 19 pesan perjuangan pahlawan nasional

Pewarta: Nadine Laysa Amalia
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |