Rupiah mulai menguat, pakar dorong produsen otomotif perkuat strategi

3 days ago 11

Jakarta (ANTARA) - Ekonom jebolan Universitas Indonesia dan University of Amsterdam Josua Pardede menilai industri otomotif perlu memanfaatkan momentum penguatan nilai tukar rupiah untuk menjaga daya saing dan mendorong permintaan melalui strategi harga, pembiayaan, serta pengelolaan bisnis yang lebih hati-hati.

Menurut Josua saat dihubungi dari Jakarta, Rabu, menjaga stabilitas harga kendaraan menjadi langkah penting di tengah kondisi konsumen yang masih cenderung menunda pembelian.

Ia mengatakan ruang yang muncul dari penurunan biaya impor akibat penguatan rupiah sebaiknya digunakan untuk menahan kenaikan harga kendaraan.

"Langkah pertama yang perlu dilakukan industri adalah menahan kenaikan harga selama mungkin. Jika rupiah menguat dan biaya impor mulai turun, ruang tersebut sebaiknya dipakai untuk menjaga harga tetap stabil, bukan langsung menaikkan margin. Dalam kondisi konsumen menunda pembelian, stabilitas harga lebih penting daripada kenaikan harga kecil yang bisa memperlemah permintaan,” katanya.

Baca juga: Gaikindo sebut penguatan rupiah angin segar bagi industri otomotif

Selain itu, industri juga perlu memperkuat program pembiayaan agar pembelian kendaraan lebih terjangkau. Ia menyarankan kerja sama yang lebih erat antara produsen, perusahaan pembiayaan, dan perbankan untuk menawarkan cicilan yang lebih ringan, uang muka yang fleksibel, serta program bunga promosi yang tetap memperhatikan kualitas kredit.

Menurut dia, keterjangkauan cicilan masih menjadi faktor utama yang menentukan keputusan masyarakat dalam membeli kendaraan.

Josua juga menilai produsen perlu memperkuat nilai tambah di luar harga jual, seperti paket servis gratis, garansi lebih panjang, potongan biaya perawatan, asuransi, program tukar tambah, hingga jaminan ketersediaan suku cadang dan nilai jual kembali kendaraan.

“Dalam situasi daya beli melemah, konsumen lebih memperhatikan biaya kepemilikan sepanjang masa pakai kendaraan, bukan hanya harga beli awal,” ujarnya.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, terutama dengan masuknya merek-merek baru asal China, ia menilai produsen lama perlu memperkuat layanan purna jual, jaringan bengkel, ketersediaan suku cadang, serta membangun kepercayaan konsumen.

“Dalam jangka pendek, perang harga mungkin menggoda, tetapi dalam jangka panjang yang lebih menentukan adalah kepercayaan konsumen,” katanya.

Lebih lanjut, Josua menekankan pentingnya pengelolaan stok secara disiplin. Produsen dan diler, menurut dia, perlu lebih fokus memantau penjualan ke konsumen akhir dibandingkan sekadar pengiriman kendaraan dari pabrik ke diler agar tidak terjadi kelebihan persediaan yang berujung pada diskon besar.

Baca juga: Gaikindo optimis penjualan otomotif tetap tumbuh di 2026

Untuk jangka panjang, ia mendorong percepatan peningkatan kandungan lokal guna mengurangi ketergantungan industri terhadap fluktuasi nilai tukar.

Langkah tersebut dinilai penting terutama untuk komponen elektronik, baterai, motor listrik, baja, plastik otomotif, kaca, ban, dan suku cadang utama.

Josua mengatakan strategi-strategi tersebut perlu diterapkan karena kondisi pasar otomotif belum sepenuhnya pulih. Data penjualan yang meningkat secara tahunan namun menurun secara bulanan menunjukkan pasar memang membaik dibandingkan tahun lalu, tetapi pemulihannya masih berlangsung secara bertahap.

“Artinya, pasar masih perlu dijaga dengan strategi harga, pembiayaan, dan stok yang hati-hati,” ujar pengamat yang juga menjabat sebagai Kepala Ekonom di Permata Bank tersebut.

Ia menambahkan pemerintah juga perlu menjaga stabilitas rupiah, memastikan konsistensi insentif kendaraan listrik dan komponen lokal, serta mempertahankan daya beli masyarakat agar peluang pemulihan industri otomotif dapat terus terjaga.

Diketahui, nilai tukar rupiah pada Senin (15/6) bergerak menguat 82 poin atau 0,46 persen menjadi Rp17.778 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.860 per dolar AS. Sebelumnya nilai tukar rupiah juga sempat melemah di kisaran Rp18.000 lebih per dolar AS. Hingga Rabu sore, nilai tukar rupiah mencapai Rp17.758 per dolar AS.

Baca juga: Ekonom: Penguatan rupiah bantu tahan kenaikan harga otomotif

Baca juga: Penjualan grosir mobil merek China di Indonesia naik 72 persen

Pewarta:
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Rakyat news | | | |