Antusias dunia menyambut bayi bekantan kembar

3 hours ago 1
Kelahiran kembar pada primata umumnya merupakan peristiwa yang langka, sementara monyet hidung panjang atau bekantan biasanya hanya melahirkan satu anak. Karena itu, fenomena bersejarah ini dinilainya sangat luar biasa dan layak untuk dibagikan kepad

Banjarmasin (ANTARA) - Sekilas, anak bekantan itu tampak tak berbeda dengan primata lain yang baru lahir. Tubuh mungilnya diselimuti bulu hitam pekat, sementara wajahnya berwarna biru tua. Jauh dari sosok bekantan dewasa yang dikenal dengan bulu kuning kecokelatan dan hidung besar yang menjadi ciri khasnya.

Namun, waktu akan mengubah penampilannya. Seiring bertambah usia, bulu hitam itu perlahan berganti menjadi kuning kecokelatan, sementara hidungnya akan tumbuh memanjang hingga menyerupai bekantan dewasa.

Pemandangan langka itu baru-baru ini terlihat di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Yang membuatnya semakin istimewa, bukan hanya satu bayi bekantan yang lahir, tapi sepasang anak kembar, di Stasiun Riset Bekantan "Camp Tim Roberts" yang dikelola Dr. Amalia Rezeki, ahli konservasi biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), bersama Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).

Amalia mengatakan dua ekor bayi bekantan kembar yang baru saja lahir pada pertengahan Juni 2026 ini berasal dari betina kelompok Alpha.

Menurut Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, kelahiran bayi kembar pada primata merupakan fenomena yang sangat langka. Peluang terjadinya kelahiran kembar pada primata, khususnya monyet besar dari dunia lama seperti bekantan (Nasalis larvatus) di alam liar sangat kecil dibandingkan kelahiran tunggal.

Kemunculan bayi kembar bekantan itu terlihat pertama kali saat Amel dan tim melakukan pemantau rutin di area Camp Tim Roberts.

Amel mengaku terharu menyaksikan pemandangan yang menakjubkan ketika dua ekor bayi kembar yang sedang menyusu dipelukan induknya.

"Kami sangat bersyukur dan sempat meneteskan air mata terharu karena lebih dari sepuluh tahun saya mendedikasikan diri bagi upaya pelestarian bekantan di kawasan Pulau Curiak, baru kali ini menemukan kelahiran bayi bekantan kembar," ungkap dosen Pendidikan Biologi ULM peraih Kalpataru 2022 sebagai penyelamat lingkungan ini.

Menurut dia, sepanjang pertengahan tahun ini telah lahir tiga bayi bekantan di kawasan Camp Tim Roberts yang merupakan bagian dari Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak, sebuah habitat yang berada di luar kawasan konservasi.

Amel menjelaskan masa reproduksi bekantan jantan dimulai dari usia 4 hingga 5 tahun, sementara untuk betinanya pada usia 4 tahun. Bekantan lazimnya hanya melahirkan 1 ekor bayi dalam 1 musim, dengan masa kehamilan selama 5 sampai 6 bulan.

Bayi bekantan dirawat secara berkelompok dengan pola asuh, semacam baby sister oleh koloninya, terutama dilakukan oleh betina muda.

Amel mengungkapkan kelahiran bayi kembar bekantan ini menarik perhatian dunia, terutama dari kalangan akademisi yang juga peneliti serta pegiat konservasi keragaman hayati.

Primata yang termasuk dalam daftar merah Lembaga Konservasi Internasional IUCN dengan status terancam punah (Endangered Species) ini, kini banyak menjadi perhatian dunia, terlebih dengan kemunculan bayi kembar bekantan.

Baca juga: Bayi bekantan dan lutung lahir di kawasan mangrove Pulau Curiak Kalsel

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |