Rupiah melemah dipicu ketegangan AS-Iran yang tingkatkan harga energi

5 hours ago 6
Konflik di Timur Tengah khususnya ketegangan antara AS dan Iran mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,

Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada Kamis pagi melemah 108 poin atau 0,63 persen menjadi Rp17.289 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan, pelemahan rupiah dipicu ketegangan antara AS dengan Iran yang mendorong kenaikan harga energi.

“Konflik di Timur Tengah khususnya ketegangan antara AS dan Iran mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Mengutip Sputnik, Presiden AS Donald Trump mengatakan Amerika memperpanjang gencatan senjata secara pihak dengan Iran dengan sambil tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Dengan memperpanjang gencatan senjata, Trump mengatakan hal itu akan memberikan waktu bagi Iran untuk mengajukan "proposal terpadu”.

Baca juga: BI nilai dampak kenaikan BBM nonsubsidi ke inflasi bersifat terbatas

Adapun Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa pelanggaran komitmen, tindakan blokade di Selat Hormuz, serta ancaman dari AS menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi.

Menurut Pezeshkian, Iran selalu menyambut dan terus membuka diri terhadap dialog dan kesepakatan. Namun, itikad buruk, pengepungan, dan ancaman dari AS merupakan penghalang utama bagi negosiasi yang tulus.

Pezeshkian menegaskan bahwa dunia menyaksikan retorika kosong yang penuh kemunafikan serta kontradiksi antara klaim dan tindakan.

Karena tidak menemui titik temu antara kedua belah pihak, pertemuan untuk pembicaraan negosiasi putaran kedua di Pakistan yang direncanakan terjadi pada Rabu (22/4) akhirnya tertunda.

Baca juga: Rupiah pada Kamis pagi melemah jadi Rp17.289 per dolar AS

Anadolu melaporkan bahwa harga energi melonjak karena ketidakpastian tentang gencatan senjata AS-Iran yang rapuh dan risiko negosiasi damai gagal, sehingga memicu kekhawatiran baru tentang gangguan pasokan global.

Minyak mentah Brent berada di sekitar 98,50 dolar AS per barel pada pukul 18:40 GMT per Selasa (22/4), sementara patokan AS West Texas Intermediate (WTI) naik menjadi sekitar 89,60 dolar AS per barel.

Harga gas alam Eropa juga naik 8,2 persen, dengan kontrak berjangka TTF (Title Transfer Facility) meningkat ke sekitar 51,3 dolar AS per megawatt-jam karena pasar memperhitungkan risiko yang lebih rendah terhadap gangguan pasokan yang lebih dalam.

Sentimen lain berasal dari ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama turut memperkuat dolar AS, sehingga mendorong arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca juga: Rupiah melemah seiring ketidakpastian gencatan senjata AS-Iran

Melihat dari sisi domestik, lanjut dia, keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen mencerminkan fokus pada stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.

Namun, ruang kebijakan yang terbatas akibat inflasi yang mendekati batas atas target serta meningkatnya tekanan harga energi membuat respons pasar cenderung berhati-hati.

Untuk meredam volatilitas, BI disebut juga menaikkan ambang batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari sebelumnya 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa kebijakan ini bertujuan mengurangi tekanan di pasar spot valuta asing sekaligus memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah.

“Pelemahan yang cukup tajam pada pembukaan hari ini juga mencerminkan reaksi pasar domestik terhadap sentimen global yang berkembang sebelumnya, dimana permintaan dolar AS sudah meningkat,” ungkap Amru.

Baca juga: BI: Rupiah dapat dijaga relatif stabil selama hampir sebulan terakhir

Pada awal perdagangan, katanya, kondisi likuiditas yang relatif lebih tipis membuat tekanan tersebut lebih mudah mendorong pelemahan rupiah secara signifikan. Aksi jual beli dolar oleh pelaku pasar domestik dan potensi arus keluar modal turut memperbesar tekanan di awal sesi.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah dinilai mencerminkan kombinasi penguatan dolar AS, meningkatnya risiko global, serta keterbatasan ruang kebijakan domestik. Meskipun BI telah memperkuat langkah stabilisasi melalui intervensi valas dan kebijakan DNDF, tekanan jangka pendek disebut masih cukup besar.

“Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, arah kebijakan Federal Reserve, serta efektivitas bauran kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas pasar keuangan,” ujar Research and Development ICDX.

Baca juga: Kurs rupiah masih dibayangi sentimen potensi negosiasi AS-Iran

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |