Psikolog: Warga desa lebih tangguh hadapi bencana

2 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Psikolog klinis sekaligus relawan Tim Cadangan Kesehatan (TCK) dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI) Anna Aulia menemukan perbedaan daya tahan psikologis antara warga desa dan warga kota saat menangani dampak banjir di Aceh Tamiang.

“Di desa, mereka fokus bagaimana bisa bertahan hidup lagi. Kalau rumah hilang, mereka bilang akan bangun lagi dan cari pekerjaan lagi,” katanya dalam wawancara khusus dengan ANTARA di Antara Heritage Center, Jakarta Pusat, Jumat (20/2).

Selama bertugas mendampingi penyintas di sejumlah kecamatan, Anna mengamati warga di wilayah desa terpencil cenderung lebih cepat menerima kondisi pascabencana dibanding warga yang tinggal di pusat kota.

Baca juga: Anak dan lansia paling rentan mengalami trauma saat bencana

Baca juga: Terapi seni dapat bantu anak korban bencana ekspresikan trauma

Sebaliknya, warga yang tinggal di wilayah yang lebih berkembang dinilai lebih terguncang secara emosional. Kehilangan aset, usaha, dan pekerjaan membuat proses pemulihan psikologis menjadi lebih lama.

"Perbedaan ini berkaitan dengan cara pandang terhadap kehilangan," kata Anna.

Warga desa yang terbiasa hidup dengan keterbatasan dinilai lebih cepat beradaptasi ketika kehilangan harta benda.

Meski demikian, ia menegaskan setiap individu memiliki respons yang berbeda terhadap bencana. Besarnya dampak tidak hanya ditentukan oleh lokasi, tetapi juga oleh pengalaman kehilangan dan dukungan sosial yang dimiliki.

Dalam pendampingan di lapangan, relawan melakukan penyaringan awal untuk mengidentifikasi penyintas dengan indikasi trauma berat.

Pendekatan dilakukan melalui pemulihan trauma dan layanan psikososial untuk membantu mereka kembali terhubung dengan lingkungan sekitar.

Menurut Anna, pemulihan psikologis membutuhkan waktu dan tidak bisa berlangsung instan.

“Yang paling penting adalah mereka merasa tidak sendiri dan tetap memiliki dukungan dari lingkungan,” ujarnya.

Penerjunan relawan TCK di Aceh sendiri merupakan bagian dari program pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam memperkuat layanan kesehatan pascabencana banjir di Aceh.

Kemenkes mengerahkan TCK untuk memastikan layanan kesehatan tetap berjalan, termasuk dukungan kesehatan mental bagi masyarakat terdampak.

Baca juga: FKG UI lepas relawan pemulihan pascabencana ke Aceh Tamiang

Baca juga: PDAM Aceh Tamiang bentuk tim percepatan pemulihan jaringan air

Baca juga: Ramadan jadi momen bangkitkan ekonomi Aceh Tamiang pascabanjir

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |