Kabupaten Tanah Datar (ANTARA) - Sejak bertahun-tahun Danau Singkarak, yang terletak di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok, menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat di selingkaran danau tektonik tersebut.
Danau dengan luas kurang lebih 107 kilometer persegi dan kedalaman 268 meter tersebut menjadi jantung atau urat nadi perekonomian bagi masyarakat sekitar.
Tidak hanya kekayaan sumber daya alam yang tersimpan di dalamnya, keindahan dan bentangan alam yang disuguhi perbukitan hijau juga menjadi daya tarik wisatawan kerap mengunjungi Danau Singkarak.
Di kawasan danau purba ini jugalah terdapat populasi ikan bilih. Ikan endemik dengan nama latin mystacoleucus padangensis yang merupakan primadona sekaligus menjadi mata pencaharian utama masyarakat di sekitar Danau Singkarak.
Hampir seluruh masyarakat di pinggiran danau ini menggantungkan hidupnya dari ikan bilih. Ada yang bekerja sebagai nelayan, pengepul hingga pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ikan bilih.
Salah satunya Elvi Rita (52), warga Jorong Baing, Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar yang sudah menjalankan usaha pengolahan ikan bilih belasan tahun lamanya.
Dari usahanya itu, Elvi berhasil menyekolahkan ketiga anaknya hingga menjadi sarjana. Anak pertamanya lulusan Fakultas Hukum Universitas Andalas (UNAND) yang saat ini sedang menunggu penempatan kerja di salah satu bank himpunan bank milik negara (Himbara). Anak keduanya, sedang merintis bisnis travel, dan terakhir anak bungsunya seorang anggota polisi.
"Seluruh biaya pendidikan ketiga anak saya berasal dari pengolahan ikan bilih," kata dia.
Menariknya, dari usaha pengolahan ikan bilih yang dijalankannya, Elvi bisa mempekerjakan lima hingga sembilan warga lokal dalam sehari. Jika pasokan ikan sedang melimpah, ia mempekerjakan sembilan ibu-ibu rumah tangga. Namun, jika hasil tangkapan nelayan sedang turun hanya ada dua atau tiga yang dipekerjakan.
Para pekerja membersihkan ikan bilih sebelum digoreng di Jorong Baing, Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sabtu (21/2/2026). ANTARA/Muhammad ZulfikarBaca juga: Konservasi berbasis nagari demi menyelamatkan bilih dari kepunahan
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































