Bandung (ANTARA) - Kepolisian Resor (Polres) Cimahi, Jawa Barat, membuka posko Disaster Victim Identification (DVI) guna mempercepat proses evakuasi dan identifikasi korban yang saat ini sebanyak 83 orang dilaporkan masih dalam pencarian.
Kapolres Cimahi AKBP Niko Nurullah Adi Putra di Bandung Barat, Sabtu, mengatakan posko DVI didirikan untuk mempercepat proses identifikasi korban longsor di tengah kondisi cuaca ekstrem yang masih terjadi.
"Hasil daripada evaluasi ini tentunya kita sudah berkoordinasi dan memutuskan untuk menyediakan posko DVI (Disaster Victim Identification) dan posko dari Dinas Kesehatan KBB juga sudah ada," jelasnya.
Dirinya menjelaskan bahwa koordinasi terus dilakukan di lokasi tersebut sehingga bisa melakukan upaya untuk melakukan evakuasi terhadap beberapa korban.
Menurutnya, lokasi longsor di Kecamatan Cisarua merupakan titik dengan dampak terbesar dengan data hasil pendataan sementara menyebut sebanyak 114 orang sempat dilaporkan terdampak dengan rincian 23 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Dalam pantauan ANTARA, sebanyak delapan korban meninggal dunia telah ditemukan dan dievakuasi, serta 83 orang lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan.
Selain itu, Polres Cimahi mengerahkan sekitar 60 personel, sementara bantuan tambahan juga datang dari Polda Jawa Barat yang menurunkan sejumlah tim untuk memperkuat upaya pencarian.
"kita kalau dari Polres Cimahi aja selain dari kami ada kurang lebih 60 tapi tentunya dari Polda juga ada berturut-turut untuk membantu salah satunya ada timnya sudah turun di sini," tambahnya.
Hingga kini, pencarian korban masih terus dilanjutkan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan petugas akibat kondisi cuaca yang belum membaik.
Baca juga: Tim SAR cari 82 warga tertimbun longsor di Cisarua Bandung Barat
Baca juga: BPBD: Cuaca sulitkan pencarian 82 korban longsor Cisarua Bandung
Baca juga: Wabup: Hampir semua rumah di 2 kampung Bandung Barat tertimbun longsor
Pewarta: Ilham Nugraha
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































